<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan group An-Nisa’</title>
	<atom:link href="http://annisagroup.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://annisagroup.wordpress.com</link>
	<description>Menuntut ilmu syar&#039;i</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Nov 2011 11:19:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='annisagroup.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/cc657513a1f51f5da3e99cc59f1c2cd1?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Catatan group An-Nisa’</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://annisagroup.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan group An-Nisa’" />
	<atom:link rel='hub' href='http://annisagroup.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pilihan Allah Adalah yang Terbaik bagi Hambanya</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 11:14:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Abdullah Taslim. MA Ridha dan Yakin Bahwa Pilihan Allah Ta’ala Adalah yang Terbaik bagi Hamba Imam Adz-Dzahabirahimahullah[1] dan Ibnu Katsir rahimahullah[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma, bahwa pernah disampaikan kepada beliau radhiallahu ‘anhuma tentang ucapan shahabat Abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=381&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/cantik39.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-382" title="cantik39" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/cantik39.jpg?w=300&#038;h=187" alt="" width="300" height="187" /></a></p>
<p><strong>Ustadz Abdullah Taslim. MA</strong></p>
<p><strong>Ridha dan Yakin Bahwa Pilihan Allah Ta’ala Adalah yang Terbaik bagi Hamba</strong></p>
<p>Imam Adz-Dzahabi<em>rahimahullah</em><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn1">[1]</a> dan Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn2">[2]</a> menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, bahwa pernah disampaikan kepada beliau <em>radhiallahu ‘anhuma</em> tentang ucapan shahabat Abu Dzar <em>radhiallahu ‘anhu,</em> “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat.” Maka, al-Hasan bin ‘Ali <em>radhiallahu ‘anhuma</em> berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah, “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah <em>Ta’ala</em> pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah <em>Ta’ala</em>) berlakukan (bagi hamba-Nya).”</p>
<p><em>Atsar</em> (riwayat) shahabat di atas menggambarkan tingginya pemahaman Islam para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama.<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dalam <em>atsar</em> ini, shahabat Abu Dzar <em>radhiallahu ‘anhu</em> menjelaskan bahwa kondisi susah (miskin dan sakit) lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang (kaya dan sehat), karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untuk tidak melanggar perintah Allah <em>Ta’ala</em> dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> “<em>Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalianpun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka.</em>”<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Akan tetapi, dalam <em>atsar</em> ini, cucu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, Al-Hasan bin ‘Ali <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengomentari ucapan Abu Dzar di atas dengan pemahaman agama yang lebih tinggi dan merupakan konsekuensi suatu kedudukan yang sangat agung dalam Islam, yaitu ridha kepada Allah <em>Ta’ala</em> sebagai <em>Rabb</em> (Pencipta, Pengatur, Pelindung dan Penguasa bagi alam semesta), yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan takdir dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya.<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Sikap ini merupakan ciri utama orang yang akan meraih kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> “Akan merasakan kelezatan/ kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah <em>Ta’ala</em> sebagai <em>Rabb</em>-nya dan Islam sebagai agamanya, serta (Nabi) Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai rasulnya.”<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:</p>
<p>- Bersandar dan bersarah diri kepada Allah <em>Ta’ala</em> adalah sebaik-baik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya.<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn7">[7]</a> Allah berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang ber-tawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya</em>.” (QS. ath-Thalaaq: 3).</p>
<p>- Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah <em>Ta’ala</em>I bagi hamba-Nya adalah termasuk bersangka baik kepada-Nya dan ini merupakan sebab utama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutamaan bagi hamba-Nya. Dalam sebuah hadits <em>qudsi,</em> Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman, “<em>Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.</em>”<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah <em>Ta’ala.</em><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn9">[9]</a><em> </em></p>
<p>- Takdir yang Allah <em>Ta’ala</em> tetapkan bagi hamba-Nya, baik berupa kemiskinan atau kekayaan, sehat atau sakit, kegagalan dalam usaha atau keberhasilan dan lain sebagainya, wajib diyakini bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut, karena Allah <em>Ta’ala</em> Maha Mengetahui bahwa di antara hamba-Nya ada yang akan semakin baik agamanya jika dia diberikan kemiskinan, sementara yang lain semakin baik dengan kekayaan, dan demikian seterusnya.<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn10">[10]</a></p>
<p>- Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi <em>rahimahullah</em> berkata, “Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena (dikhawatirkan) harta itu menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah <em>Ta’ala</em>, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Barapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah <em>Ta’ala</em>, seperti Nabi Sulaiman <em>‘alaihissalam</em>, demikian pula (sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) ‘Utsman (bin ‘Affan) <em>radhiallahu ‘anhu</em> dan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya (justru) melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan, serta kedekatan kepada-Nya….”<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn11">[11]</a></p>
<p>- Orang yang paling mulia di sisi Allah <em>Ta’ala</em> adalah orang yang mampu memanfaatkan keadaan yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> pilihkan baginya untuk meraih takwa dan kedekatan di sisi-Nya, maka jika diberi kekayaan dia bersyukur dan jika diberi kemiskinan dia bersabar. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p>إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”</em> (QS. al-Hujuraat: 13).</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan</em><em> dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.</em>”<a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftn12">[12]</a></p>
<p>وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 7 Jumadal ula 1432 H<br />
Abdullah bin Taslim al-Buthoni</p>
<p>Sumber: <a title="Menyejukkan Hati dengan Tetesan Embun Sunnah" href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/" target="_blank">www.Manisnyaiman.com</a></p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref1">[1]</a> Dalam kitab <em>Siyaru A’laamin Nubalaa’</em>(3/262).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref2">[2]</a> Dalam kitab <em>Al-Bidaayah wan Nihaayah</em> (8/39).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref3">[3]</a> Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab <em>Al-Fawa-id</em> (hal. 141).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref4">[4]</a> Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref5">[5]</a> Lihat kitab <em>Fiqul Asma-il Husna</em> (hal. 81).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref6">[6]</a> Hadits shahih riwayat Muslim (no. 34).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref7">[7]</a> Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab <em>Badaa-i’ul Fawa-id</em> (2/766).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref8">[8]</a> Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 7066- cet. Daru Ibni Katsir) dan Muslim (no. 2675).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref9">[9]</a> Lihat kitab <em>Faidhul Qadiir</em> (2/312) dan <em>Tuhfatul Ahwadzi</em> (7/53).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref10">[10]</a> Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab <em>‘Uddatush Shaabiriin</em> (hal. 149-150).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref11">[11]</a> Kitab <em>Al-Aadaabusy Syar’iyyah</em> (3/469).</p>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/#_ftnref12">[12]</a> Hadits shahih riwayat Muslim (no. 2999).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/381/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=381&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/pilihan-allah-adalah-yang-terbaik-bagi-hambanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/cantik39.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cantik39</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amalan Paling Ringan, Berpahala Paling Besar</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/amalan-paling-ringan-berpahala-paling-besar/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/amalan-paling-ringan-berpahala-paling-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 11:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Farid Muhammad al-Bathothy, Lc Setiap orang muslim di antara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling baik itu?” Beliau menjawab “Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad). Kehidupan di dunia ini merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=377&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-378" title="images" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg?w=477" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Ustadz Farid Muhammad al-Bathothy, Lc</strong></p>
<p>Setiap orang muslim di antara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling baik itu?” Beliau menjawab “Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).</p>
<p>Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia bahagia setelah kematiannya serta rela dengan apa yang ia kerjakan.</p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah memberitahukan bahwa umur umatnya ini antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, mereka tidak seperti umur umat sebelumnya. Tetapi beliau telah menunjukkan mereka kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu jika dibandingkan dengan umur sebelumnya. Inilah yang dinamakan dengan <em>“al-A’maal al-Mudhoo’afah”</em> (amalan-amalan yang berlipat ganda) yang tidak semua orang mengetahuinya.</p>
<p>Oleh karena itu, saya hendak menyebutkan sebagian besar dari amalan-amalan yang mudah lagi berlipat ganda tersebut pada tulisan yang singkat ini. Dengan harapan agar setiap orang di antara kita menambah umurnya (dengan amalan) yang produktif dalam kehidupan dunia ini. Agar tergolong dari orang-orang yang mengerti (untuk mengambil) selanya, (kata pepatah <img src="https://s-ssl.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?w=630" alt=":)" /> <em>“Darimanakah bahu (hewan sembelihan itu) dimakan”.</em> Maka mereka memilih dari amalan-amalan tersebut mana yang paling ringan (dikerjakan) oleh jiwa dan paling besar pahalanya. Orang seperti ini bagaikan orang yang mengumpulkan permata-permata yang berharga dari dasar laut sementara manusia yang lain (hanya) mendapatkan ombaknya saja.</p>
<p>Berikut ini akan kami sebutkan amalan-amalan maupun ucapan-ucapan secara berurutan dan singkat, dengan disertai dalil dari setiap ucapan atau amalan yaitu dalil-dalil dari <em>Kitabulloh</em> atau dari hadits-hadits yang <em>shohih</em> dan <em>hasan.</em> Alloh-lah Yang Maha Pemberi taufiq untuk setiap kebaikan.</p>
<p><strong>1.      </strong><strong>Silaturahmi.</strong> Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda : <strong></strong></p>
<p>“Barangsiapa ingin dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung (tali) silaturahminya.” (HR. al-Bukhori dan Muslim).</p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Berakhlak yang mulia,</strong> Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p>“Silaturahmi, berbudi mulia, dan ramah pada tetangga (dapat) mendirikan kabilah dan menambah umur.” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi).</p>
<p><strong>3.      </strong><strong>Memperbanyak sholat di <em>“Haromain Syarifain”,</em></strong> berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> : <strong></strong></p>
<p>“Sholat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu (sholat) daripada yang lain kecuali Masjid Harom, dan sholat di Masjid Harom itu lebih baik dari seratus ribu (sholat) dari pada yang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).</p>
<p>4.      <strong>Sholat berjamaah bersama imam,</strong> berdasarkan sabda Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p>“Sholat berjamaah itu lebih baik dari pada sholat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. al-Bukhori dan Muslim).</p>
<p>Adapun perempuan sholat di rumah, dan hal itu lebih baik dari pada mereka sholat di masjid, walaupun di Masjid Nabawi. Berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada Ummu Humaid <em>radhiyallahu ‘anha</em>–salah satu dari shohabiyat, “Aku tahu bahwa kamu senang sholat bersamaku, tapi sholatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu daripada sholatmu di kamarmu. Dan sholatmu di kamarmu itu lebih baik bagimu dari pada sholatmu di tempat tinggalmu. Dan sholatmu di tempat tinggalmu lebih baik bagimu daripada sholatmu di masjid kaummu. Dan sholatmu di masjid kaummu lebih baik bagimu daripada sholatmu di masjidku (Masjid Nabawi).” (HR. Ahmad).</p>
<p>Lalu setelah ini beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sholat di penghujung rumahnya di tempat yang  gelap sampai beliau menemui ajalnya.</p>
<p><strong>5.      </strong><strong>Melaksanakan sholat <em>nafilah</em> (sunnah) di rumah,</strong> berdasarkan sabda beliau        “Keutamaan sholat seseorang laki-laki di rumahnya dengan sholat yang dilihat oleh orang banyak seperti halnya keutamaan sholat fardhu atas sholat sunnah.” (HR. al-Baihaqi dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Bukti yang menguatkan hal itu juga sabda Rosulloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadits shohih :</p>
<p>“Sebaik-baiknya sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat wajib.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)</p>
<p><strong>6.      </strong><strong>Berhias dengan beberapa adab pada hari Jumat,</strong> yaitu yang terdapat pada sabdanya        :</p>
<p>“Barangsiapa mandi (janabat) pada hari Jumat, kemudian berangkat di awal waktu, mendapatkan khutbah pertama, berjalan kaki tidak naik kendaraan, mendekati imam, mendengarkan khutbah dan tidak berbicara, maka baginya setiap langkahnya adalah (bagaikan) amalan setahun dari pahala puasa dan sholat (tarawih)nya.” (HR. Ahlus Sunan).</p>
<p>Artinya <em>“ghossala</em>” adalah membasuh kepalanya, dan ada yang mengartikannya sebagai menggauli istrinya agar pandangannya tidak melihat yang haram pada hari itu. Sedang arti “<em>bakkaro</em>” adalah berangkat (ke masjid) di awal waktu. Dan ”<em>Ibtakaro</em>” adalah mendapatkan khutbah pertama.</p>
<p><strong>7.      </strong><strong>Sholat Dhuha,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Bila masuk waktu pagi maka setiap jari-jari tangan kamu ada kewajiban <em>shodaqoh</em>, lalu setiap (bacaan) tasbih adalah <em>shodaqoh</em>, tahmid adalah <em>shodaqoh,</em> tahlil adalah <em>shodaqoh</em>, takbir adalah <em>shodaqoh, amar ma’ruf </em>adalah <em>shodaqoh, nahi mungkar</em> adalah <em>shodaqoh</em>, dan cukup dari itu semuanya dengan sholat dua rakaat waktu Dhuha.” (HR. Muslim).</p>
<p>Makna “<em>sulamaa</em>” adalah lipatan-lipatan organ tubuh seseorang yang berjumlah tiga ratus enam puluh lipatan / engsel.</p>
<p>Sebaik-baiknya waktu sholat Dhuha adalah ketika matahari sangat panas, berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ”Sholat orang-orang yang bertobat itu ketika anak unta terasa sangat panas.” (HR. Muslim).</p>
<p>Maksudnya, tatkala anak unta itu berdiri dari tempatnya karena terik matahari yang sangat panas.</p>
<p><strong>8.      </strong><strong>Menghajikan orang lain atas biayanya setiap tahun,</strong> berdasarkan sabdanya  <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Kerjakanlah haji dan umroh itu berturut-turut, karena sesungguhnya ia (dapat) menghilangkan kefakiran dan dosa seperti ubupan (alat peniup api) tukang besi yang menghilangkan karat besi, emas, dan perak.” (HR. At-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Kadang-kadang seseorang tidak bisa melakukan haji setiap tahun. Oleh karena itu, hendaknya ia menghajikan orang lain atas biayanya- yang mampu badannya (dalam mengadakan perjalanan ke Baitulloh).</p>
<p><strong>9.      </strong><strong>Sholat setelah terbitnya matahari,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>:</p>
<p>“Barangsiapa sholat Subuh dengan berjamaan (di masjid), kemudian ia duduk sambil berdzikir kepada Alloh sampai terbitnya matahari, lalu sholat dua rakaat, maka baginya seperti pahala ibadah haji dan umroh yang sempurna, yang sempurna, dan yang sempurna.” (HR. At-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p><strong>10.  </strong><strong>Menghadiri halaqoh-halaqoh ilmu di masjid,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ”Barangsiapa berangkat ke masjid dia tidak menginginkan kecuali untuk belajar sesuatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya adalah seperti pahala orang yang beribadah haji dengan sempurna.” (HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>11.  </strong><strong>Melaksanakan umroh pada bulan Romadhon,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>“Umroh di bulan Romadhon sama dengan haji bersamaku.” (HR. Al-Bukhori).</p>
<p><strong>12.  </strong><strong>Melaksanakan sholat lima waktu di masjid,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p>“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk sholat fardhu, maka pahalanya seperti pahala haji.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Dan yang lebih utama agar keluar dari rumahnya sudah dalam keadaan suci, bukan bersuci di masjid, kecuali dalam keadaan terpaksa dan darurat.</p>
<p><strong>13.  </strong><strong>Hendaknya berada di <em>shof </em>yang pertama,</strong> berdasarkan ucapan ’Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>bahwa Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memintakan ampunan (kepada Alloh) bagi orang yang berada di <em>shof</em> yang pertama ”tiga kali”, dan <em>shof</em> yang kedua ”satu kali”. (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).</p>
<p>Dan berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga, “Sesungguhnya Alloh dan malaikatNya membacakan sholawat kepada orang-orang yang berada di <em>shof </em>pertama.” (HR. Ahmad dengan sanad yang baik).</p>
<p><strong>14.  </strong><strong>Sholat di masjid Quba,</strong> berdasarkan sabda <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>:<strong></strong></p>
<p>“Barangsiapa bersuci dari rumahnya, kemudian ia datang ke Masjid Quba, lalu sholat di dalamnya, maka baginya seperti pahala umroh.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).</p>
<p><strong>15.  </strong><strong>Menjadi <em>mu’adzin </em>(tukang adzan),</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Tukang adzan itu akan diampuni (dosanya) sepanjang suaranya (terdengar), dan dibenarkan oleh orang yang mendengarkannya, baik basah maupun kering, dan juga baginya pahala orang yang sholat bersamanya.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).</p>
<p>Apabila anda tidak dapat menjadi tukang adzan, maka paling tidak anda harus mendapatkan pahala yang setimpal dengannya, yaitu amalan berikut.</p>
<p><strong>16.  </strong><strong>Agar mengucapkan seperti yang dikatakan oleh <em>mu’adzin</em> itu,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Katakanlah seperti yang dikatakan oleh <em>mu’adzin.</em> Bila kamu sudah selesai, maka mohonlah (kepada Alloh) niscaya Dia akan memberimu.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).</p>
<p>Maksudnya, memohonlah setelah kamu selesai menjawab <em>mu’adzin </em>itu.</p>
<p><strong>17.  </strong><strong>Puasa Romadhon dan enam hari di bulan Syawwal setelahnya,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>“Barangsiapa pusa Romadhon kemudian diikuti enam hari di bulan Syawwal, maka (pahalanya) seperti puasa setahun.” (HR. Muslim).</p>
<p><strong>18.  </strong><strong>Puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, dan 15, bulan Qomariyah),</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ”Barangsiapa puasa tiga hari dari setiap bulan, maka itulah (pahalanya seperti) puasa setahun.”</p>
<p>Kemudian Alloh menurunkan firmanNya sebagai pembenaran dalam KitabNya, “Barangsiapa membawa amal yang baik , maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’an : 160) “Satu hari sama dengan sepuluh hari.” (HR. at-Tirmidzi).</p>
<p><strong>19.  </strong><strong>Memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa,</strong> berdasarkan sabdanya<em> </em><em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ”Barangsiapa memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>20.  </strong><strong>Sholat pada malam “Lailatul Qodr”,</strong> berdasarkan firman Alloh <em>Ta’ala</em>, ”Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qodr : 3).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Maksudnya, lebih baik daripada ibadah selama delapan puluh tiga tahun.</p>
<p><strong>21.  </strong><strong>Jihad,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Kedudukan seseorang yang <em>shof </em>(jihad) <em>fi sabilillah </em>lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun.” (HR. al-Hakim dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p>Hal ini merupakan keutamaan kedudukan / posisi dalam <em>shof</em> (jihad), lalu bagaimana dengan orang yang berjihad <em>fi sabilillah</em> dalam tempo berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.</p>
<p><strong>22.  </strong><strong><em>Ar-Ribath</em></strong> (bersiap siaga di perbatasan musuh), berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Barangsiapa tetap bersiap-siaga  ( di perbatasan musuh) <em>fi sabilillah</em> dalam satu hari satu malam, maka baginya pahala seperti puasa satu bulan penuh dengan sholat malamnya. Dan barangsiapa meninggal dalam keadaan bersiap-siaga, maka baginya seperti itu juga pahalanya, dan ia diberikan rejeki, serta diamankan dari fitnah (siksa kubur).” (HR. Muslim).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>23.  </strong><strong>Amal sholih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Tidak ada hari-hari di mana amal sholih yang dilakukan dalam sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah) lebih dicintai oleh Alloh dari hari-hari lainnya.” Para sahabat berkata, “Wahai Rosululloh, tidakkah jihad di jalan Alloh lebih utama?” Beliau menjawab, “Tidak juga berjihad di jalan Alloh, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya, dan tidak kembali darinya dengan membawa sesuatu.” (HR. al-Bukhori).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>24.  </strong><strong>Mengulang-ulangi beberapa surat al-Qur’an,</strong> berdasarkan sabdanya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>“Surat ‘al-Ikhlash’ sama dengan sepertiga al-Qur’an dan Surat al-Falaq’ sama dengan seperempat al-Qur’an.” (HR. At-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p><strong>25.  </strong><strong>Berdzikir yang pahalanya berlipat ganda</strong> dan hal ini banyak (macamnya).</p>
<p>Di antaranya bahwa Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika keluar dari (rumah istrinya), Ummul Mukminin Juwairiyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> di saat pagi hari ketika beliau sholat Subuh, sedang dia berada di tempat sholatnya. Kemudian Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pulang setelah sholat Dhuha sementara Ummul Mukminin sedang duduk (di tempat sholatnya), seraya beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya, ”Masihkah engkau dalam keadaan yang tatkala aku tinggalkan?” Ummul Mukminin menjawab, ”Ya, benar.” Lalu beliau bersabda, ”Aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali setelahmu, seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan mulai hari ini, pasti (kalimat-kalimat itu) akan lebih berat, yaitu : ”Maha Suci Alloh, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan <em>’Arsy-</em>Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (HR. Muslim).</p>
<p>Abu Umamah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihatku sedang aku menggerakkan bibirku lalu beliau bertanya, ”Apa yang kamu ucapkan, wahai Abu Umamah?” Saya menjawab, ”Saya berdzikir dan menyebut Alloh.” Kemudian (beliau mengajariku) lalu bersabda, ”Maukah kamu aku tunjukkan kepada yng lebih banyak (pahalanya) dalam berdzikir kepada Alloh di siang hari dan malam hari? Maka ucapkanlah :</p>
<p>”Segala puji bagi Alloh sebanyak bilangan apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagiNya sepenuh apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagiNya sebanyak apa yang (terdapat) dalam langit dan bumi. Segala puji bagiNya sebanyak apa yang terhitung dalam kitabNya. Segala puji bagiNya sepenuh apa yang terhitung dalam kitabNya. Segala puji bagiNya sebanyak bilangan segala sesuatu. Dan segala puji bagiNya sepenuh segala sesuatu.”</p>
<p>Dan hendaklah kamu bertasbih kepada Alloh seperti itu.” Lalu beliau meneruskan sabdanya, ”Pelajarilah (doa-doa itu) dan ajarilah orang-orang setelahmu.” (HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p><strong>26.  </strong><strong><em>Istighfar </em></strong><strong>yang berlipat ganda,</strong> berdasarkan sabda beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ”Barangsiapa memintakan ampunan bagi orang-orang mukmin maupun mukminah, maka Alloh akan menulis baginya dari setiap orang mukmin maupun mukminah sebagai satu kebajikan.” (HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>27.  </strong><strong>Melaksanakan kepentingan manusia,</strong> berdasarkan sabda beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Sesungguhnya bila aku berjalan dengan saudaraku muslim untuk memenuhi suatu hajatnya lebih saya cintai daripada saya beri’tikaf di masjid selama satu bulan.” (HR. Ibnu Abi Dun-yaa  dan dihasankan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>28.  </strong><strong>Perbuatan-perbuatan yang pahalanya senantiasa mengalir sampai setelah mati</strong> yaitu yang dijelaskan dalam hadits beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Ada empat macam pahala yang selalu mengucur (pahalanya walaupun) setelah meninggal : [1] Seseorang yang selalu siap siaga (di perbatasan musuh) di jalan Alloh. [2] Seseorang yang mengajarkan suatu ilmu, maka pahalanya akan selalu mengucur selama ilmu itu diamalkan. [3] Seseorang yang memberi <em>shodaqoh</em>, maka pahalanya akan selalu mengucur (kepadanya) selama (<em>shodaqoh</em> tersebut) dipergunakan. [4] Seorang ayah yang meninggalkan anak yang sholih yang mendoakan kepadanya.” (HR. Ahmad dan ath-Thobroni).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>29.  </strong><strong>Mempergunakan waktu,</strong> hendaknya seorang muslim menggunakan waktunya dengan ketaatan (kepada Alloh). Seperti membaca al-Qur’an, berdzikir, ibadah, mendengarkan kaset-kaset yagn bermanfaat, agar waktunya tidak sia-sia belaka dan agar ia tidak dilalaikan di mana saat itu tidak bermanfaat lagi kelalaian, seperti yang disabdakan oleh Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p>“Dua nikmat yang (sering) dilupakan oleh kebanyakan orang, yaitu kesehatan dan kekosongan (waktu).” (HR. Al-Bukhori).</p>
<p>Alloh-lah Yang Maha Memberikan taufiq kepada kita semua agar umur kita dipanjangkan olehNya dalam kebaikan. Dan dapat mempergunakan kesempatan-kesempatan yang berlipat ganda (pahalanya), di mana kebanyakan orang melalaikannya.</p>
<p align="center"> Ustadz Farid Muhammad al-Bathothy, Lc (Dosen <a title="STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya" href="http://stai-ali.ac.id/" target="_blank">STAI Ali bin Abi Thalib</a> Surabaya)</p>
<p>Sumber: <strong>Majalah Adz-Dzakhiirah</strong> Edisi 70 :: Vol. 9 No. 04 :: 1432H/2011M</p>
<p>Artikel: <a href="http://www.ibnuabbaskendari.wordpress.com/">www.ibnuabbaskendari.wordpress.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/377/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=377&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/amalan-paling-ringan-berpahala-paling-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://s-ssl.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?w=630" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Seorang Wanita Menambahkan Nama Suaminya di Belakang Namanya</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/hukum-seorang-wanita-menambahkan-nama-suaminya-di-belakang-namanya/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/hukum-seorang-wanita-menambahkan-nama-suaminya-di-belakang-namanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 10:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain. Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=373&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/cantik22.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-374" title="cantik22" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/cantik22.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.</p>
<p>Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini?</p>
<p><strong>Fatwa Lajnah Da’imah:</strong></p>
<p>Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ juz 20 halaman 379.</p>
<p><strong>Pertanyaan </strong>:</p>
<p>Telah umum di sebagian negara, seorang wanita muslimah setelah menikah menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Zainab menikah dengan Zaid, Apakah boleh baginya menuliskan namanya : Zainab Zaid? Ataukah hal tersebut merupakan budaya barat yang harus dijauhi dan berhati-hati dengannya?</p>
<p><strong>Jawab </strong>:</p>
<p>Tidak boleh seseorang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya.</p>
<p>Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p>ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS al-Ahzab: 5]</p>
<p>Sungguh telah datang ancaman yang keras bagi orang yang menisbatkan kepada selain ayahnya. Maka dari itu tidak boleh seorang wanita menisbatkan dirinya kepada suaminya sebagaimana adat yang berlaku pada kaum kuffar dan yang menyerupai mereka dari kaum muslimin.</p>
<p>وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم</p>
<p><em>al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’</em></p>
<p><em>Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz</em></p>
<p><em>Wakil : Abdul Aziz Alu Syaikh</em></p>
<p><em>Anggota :</em></p>
<p><em>Abdulloh bin ghudayyan</em></p>
<p><em>Sholih al-Fauzan</em></p>
<p><em>Bakr Abu Zaid</em></p>
<p dir="rtl">فتاوى اللجنة الدائمةالسؤال الثالث من الفتوى رقم ( 18147 )<br />
س3: قد شاع في بعض البلدان نسبة المرأة المسلمة بعد الزواج إلى اسم زوجها أو لقبه، فمثلا تزوجت زينب زيدا، فهل يجوز لها أن تكتب: (زينب زيد)، أم هي من الحضارة الغربية التي يجب اجتنابها والحذر منها؟<br />
ج3: لا يجوز نسبة الإنسان إلى غير أبيه، قال تعالى: { ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ } (1) وقد جاء الوعيد الشديد على من انتسب إلى غير أبيه. وعلى هذا فلا يجوز نسبة المرأة إلى زوجها كما جرت العادة عند الكفار، ومن تشبه بهم من المسلمين<br />
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.<br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس<br />
بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز</p>
<p><a href="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=1336">***</a></p>
<p><strong>Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan <em>hafidzohulloh</em></strong></p>
<p><strong>Pertanyaan </strong>:</p>
<p>Apakah boleh seorang wanita setelah menikah melepaskan nama keluarganya dan mengambil nama suaminya sebagaimana orang barat?</p>
<p><strong>Jawab </strong>:</p>
<p>Hal itu tidak diperbolehkan, bernasab kepada selain ayahnya tidak boleh, haram dalam islam.</p>
<p>Haram dalam islam seorang muslim bernasab kepada selain ayahnya baik laki-laki atau wanita. Dan baginya ancaman yang keras dan laknat bagi yang melakukannya yaitu yang bernasab kepada selain ayahnya hal itu tidak boleh selamanya.</p>
<p><em>Dari kaset Syarh Mandhumatul Adab Syaikh al-Fauzan Hafidhohulloh</em></p>
<p dir="rtl">السؤالهل يجوز للمرأة بعد الزواج ان تتنازل عن اسمها العائلي وتاخذ اسم زوجها كما هو الحال في الغرب؟الجواب</p>
<p dir="rtl">هذا لا يجوز الانتساب الى غير الاب لا يجوز حرام في الاسلام<br />
حرام في الاسلام ان المسلم ينتسب الى غير ابيه سواءا كان رجلا ام امرأة وهذا عليه وعيد شديد وملعون من فعله الذي ينتسب الى غير مواليه او ينتسب الى غير ابيه هذا لا يجوز ابدا</p>
<p dir="rtl">من شريط شرح منظومة الآداب للشيخ الفوزان حفظه الله</p>
<p dir="rtl"><a href="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=1336">***</a></p>
<p><strong>Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus <em>hafidzohulloh</em></strong></p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>Apakah wajib secara syar’i bagi seorang wanita menyertakan nama suaminya atau sebisa mungkin tetap menggunakan nama aslinya?</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>:الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد</p>
<p>Tidak boleh dari segi nasab seseorang bernasab kepada selain nasabnya yang asli atau mengaku keturunan dari yang bukan ayahnya sendiri. Sungguh islam telah mengharamkan seorang ayah mengingkari nasab anaknya tanpa sebab yang benar secara ijma’.</p>
<p>Alloh berfirman :</p>
<p>ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا</p>
<p>Dan sabda nabi shollallohu alaihi wa sallam :</p>
<p>مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً</p>
<p>“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Alloh, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Alloh tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah”</p>
<p>Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu.</p>
<p>Dan dalam riwayat yang lain :</p>
<p>مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ</p>
<p>“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.”</p>
<p>Dikeluarkan oleh Bukhori dalam al-Maghozi bab : Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab” (bab Bab Seseorang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya (5113) dan Ibnu Majah dalam (al-Hudud) bab : Bab orang yang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya atau berwali kepada selain walinya (2610) dan Ibnu Hibban (415) dan Darimi (2453) dan Ahmad (1500) dan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abu Bakroh rodhiyallohu anhuma.</p>
<p>Maka tidak boleh dikatakan : Fulanah bintu Fulan sedangkan ia bukan anaknya, tetapi boleh dikatakan : Fulanah zaujatu Fulan (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idhofah-idhofah ini -dan hal ini sudah diketahui &amp; biasa- maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syari’at-.</p>
<p>والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا</p>
<p>Makkah, 4 Syawwal 1427 H</p>
<p>Bertepatan dengan 16 Oktober 2006 M</p>
<p>***</p>
<p dir="rtl">السؤال: هل الواجبُ على المرأةِ حملُ لقبِ زوجِها شرعًا أم بإمكانها البقاء على لقبها الأصليِّ ؟الجوابالحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:<br />
فلا يجوزُ من حيث النسبُ أن يُنْسَبَ المرءُ إلى غير نسبه الأصلي أو يُدَّعَى إلى غير أبيه، فقد حَرَّم الإسلام على الأب أن يُنْكِرَ نَسَبَ ولدِه بغير حقٍّ إجماعًا، لقوله تعالى: ﴿ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [الأحزاب: 5]، ولقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً»(١- أخرجه مسلم في «الحج» (3327)، والترمذي في «الولاء والهبة» باب: باب ما جاء فيمن تولى غير مواليه (2127)، وأحمد (616)، من حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وفي رواية أخرى: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»(٢- أخرجه البخاري في «المغازي» باب: غزوة الطائف (3982)، ومسلم في «الإيمان» (220)، وأبو داود في «الأدب» باب: باب في الرجل ينتمي إلى غير مواليه (5113)، وابن ماجه في «الحدود» باب: باب من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه (2610)، وابن حبان (415)، والدارمي (2453)، وأحمد (1500)، من حديث سعد بن أبي وقاص وأبي بكرة رضي الله عنهما)</p>
<p dir="rtl">، فإذا كان لا يجوز أن يقال: فلانة بنت فلان وهي ليست ابنته، ولكن يجوز أن يقال: فلانة زوجة فلان أو مكفولة فلان أو وكيلة عن فلان، فإذا لم تذكر هذه الإضافات -وكانت معروفة معهودة- «فإنّ ما يجري بالعرف يجري بالشرع».<br />
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.</p>
<p dir="rtl">مكة في: 4 شـوال 1427ﻫ</p>
<p dir="rtl">الموافق ﻟ: 26 أكتوبر 2006م</p>
<p><a href="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=1336">***</a></p>
<p><strong>Lalu, Bagaimana yang disyariatkan?</strong></p>
<p>Yang disunnahkan adalah menggunakan nama kunyah (baca: kun-yah), sebagaimana telah tsabit dalam banyak hadits, dan ini jelas lebih utama daripada menggunakan laqob/julukan-julukan yang berasal dari adat barat ataupun ‘ajam. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al-Albani <em>rohimahulloh </em>dalam <em>Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah</em> no. 132 :</p>
<p>Rosululloh shollallohu alahi wa sallam bersabda :</p>
<p>اكْتَنِي [بابنك عبدالله – يعني : ابن الزبير] أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ</p>
<p>“Berkun-yahlah [dengan anakmu –yakni: Ibnu Zubair] kamu adalah Ummu Abdillah” [Lihat ash-Shohihah no. 132]</p>
<p>Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad : <em>haddatsana </em>Abdurrozzaq (bin Hammam, pent), <em>haddatsana </em>Ma’mar (bin Rosyid, pent) dari Hisyam (bin ‘Urwah, pent), dari bapaknya (Urwah bin Zubair, pent) : bahwa ‘Aisyah berkata kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam :</p>
<p>يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فذكره بدون الزيادة</p>
<p>“Wahai Rasulullah, semua istrimu selain aku memiliki kun-yah”, lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepadanya : (lalu beliau menyebutkan hadits ini tanpa tambahan).</p>
<p>Berkata (Urwah, pent) : Ketika itu ‘Aisyah disebut sebagai Ummu Abdillah sampai ia meninggal dan ia tidak pernah melahirkan sama sekali.</p>
<p>Berdasarkan hadits ini, disyariatkan berkun-yah walaupun seseorang tidak memiliki anak, ini merupakan adab Islami yang tidak ada bandingannya pada ummat lainnya sejauh yang aku ketahui. Maka sepatutnya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh padanya, baik laki-laki maupun wanita, dan meninggalkan apa yang masuk sedkit demi sedikit kepada mereka dari adat-adat kaum ‘Ajam seperti al-Biik (البيك), al-Afnadi (الأفندي), al-Basya (الباشا), dan yang semisal itu seperti al-Misyu (المسيو), as-Sayyid (السيد), as-Sayyidah (السيدة), dan al-Anisah (الآنسة), ketika semua itu masuk ke dalam Islam. Dan para fuqoha’ al-Hanafiyyah telah menegaskan tentang dibencinya al-Afnadi (الأفندي) karena di dalamnya terdapat tazkiyah, sebagaimana dalam kitab ‘Hasyiyah Ibnu Abidin’. Dan Sayyid hanya saja dimutlaqkan atas orang yang memiliki kepemimpinan atau jabatan, dan pada masalah ini terdapat hadits (قوموا إلى سيدكم) “Berdirilah kepada (tolonglah, pent) sayyid kalian”, dan telah berlalu pada nomor 66 (dalam ash-Shohihah, pent) dan tidak dimutlakkan atas semua orang karena ini juga masuk pada bentuk tazkiyah.</p>
<p><strong>Faidah </strong>: adapun hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu anha bahwa bahwa ia mengalami keguguran dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam, lalu ia menamainya (janin yang gugur tersebut, pent) Abdulloh, dan ia berkun-yah dengannya, maka hadits tersebut bathil secara sanad dan matan. Dan keterangannya ada pada adh-Dho’ifah jilid ke-9. -<em>Selesai perkataan syaikh al-Albani rohimahulloh</em>-</p>
<p><strong><em>Maroji</em></strong>‘:</p>
<p><a href="http://www.alifta.net/Search/ResultDetails.aspx?lang=ar&amp;view=result&amp;fatwaNum=&amp;FatwaNumID=&amp;ID=7822&amp;searchScope=3&amp;SearchScopeLevels1=&amp;SearchScopeLevels2=&amp;highLight=1&amp;SearchType=exact&amp;SearchMoesar=false&amp;bookID=&amp;LeftVal=0&amp;RightVal=0&amp;simple=&amp;SearchCriteria=allwords&amp;PagePath=&amp;siteSection=1&amp;searchkeyword=%D9%82%D8%AF%20%D8%B4%D8%A7%D8%B9%20%D9%81%D9%8A%20%D8%A8%D8%B9%D8%B6%20%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%84%D8%AF%D8%A7%D9%86%20%D9%86%D8%B3%D8%A8%D8%A9%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B1%D8%A3%D8%A9%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D9%84%D9%85%D8%A9%20%D8%A8%D8%B9%D8%AF%20%D8%A7%D9%84%D8%B2%D9%88%D8%A7%D8%AC#firstKeyWordFound" target="_blank">alifta.net – Fatwa Lajnah Da’imah</a></p>
<p><a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=312496" target="_blank">Sahab.net – Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan</a></p>
<p><a href="http://www.ferkous.com/rep/Bj23.php" target="_blank">Ferkous.com – Fatwa Syaikh Farkus</a></p>
<p><a href="http://tholib.wordpress.com/2007/03/30/berkun-yah-bagi-orang-yang-tidak-punya-anak/" target="_blank">Tholib.wordpress.com – Perkataan Syaikh al-Albani</a></p>
<p>Disalin dari: <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/05/23/hukum-seorang-wanita-menambahkan-nama-suaminya-di-belakang-namanya/">ummushofi.wordpress.com</a> Untuk dipublikasikan oleh: <a title="Madrasah Ibnu Abbas as-Salafy Kendari" href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/05/23/hukum-seorang-wanita-menambahkan-nama-suaminya-di-belakang-namanya/">ibnuabbaskendari.wordpress.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=373&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/30/hukum-seorang-wanita-menambahkan-nama-suaminya-di-belakang-namanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/cantik22.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cantik22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat bagi Muslim Pengguna Internet</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/21/nasehat-bagi-muslim-pengguna-internet/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/21/nasehat-bagi-muslim-pengguna-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 04:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Wahai Syaikh -semoga Allah menjagamu-, apa nasehatmu bagi para pengguna internet sehubungan dengan beragam kejelekan yang muncul di dalamnya belakangan ini? Jawab: Menurutku internet bagaikan pedang bermata dua. Wajib bagi pengguna internet untuk tidak terlalu berlebihan dalam menggunakannya. Sebagian orang menghabiskan berjam-jam menggunakannya, mereka sampai bergadang malam hingga melewatkan shalat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=368&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/laptop.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-369" title="laptop" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/laptop.jpg?w=300&#038;h=223" alt="" width="300" height="223" /></a><em>Oleh: Syaikh Ubaid Al-Jabiri</em></p>
<p>Pertanyaan:<br />
Wahai Syaikh -semoga Allah menjagamu-, apa nasehatmu bagi para pengguna internet sehubungan dengan beragam kejelekan yang muncul di dalamnya belakangan ini?</p>
<p>Jawab:<br />
Menurutku internet bagaikan pedang bermata dua. Wajib bagi pengguna internet untuk tidak terlalu berlebihan dalam menggunakannya. Sebagian orang menghabiskan berjam-jam menggunakannya, mereka sampai bergadang malam hingga melewatkan shalat subuh atau ibadah-ibadah wajib lainnya. Mungkin mereka bisa hadir shalat subuh dengan berjamaah, namun bisa jadi mereka luput dari perkara wajib lainnya. Ini adalah sebuah kesalahan.</p>
<p>Begitu juga aku nasehatkan mereka untuk tidak mengikuti (mempercayai) semua yang tersebar di internet, karena sebagian besar waktu yang dihabiskan seseorang di internet adalah kesia-siaan, atau dia mungkin akan menemukan materi yang tidak ada manfaatnya.</p>
<p>Aku nasehatkan mereka untuk mengambil faedah berupa ilmu agama dan tidak mengisi waktu mereka (tersibukkan) dengan apa yang tersebar di internet kecuali ilmu agama yang dapat memahamkan agama Allah kepada diri mereka.</p>
<p>Inilah nasehatku, barakallahu fiikum.</p>
<p>Diterjemahkan dari: http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=6&amp;Topic=4220<br />
Silakan dicopy dengan mencantumkan url: http://ulamasunnah.wordpress.com</p>
<p>Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/05/nasehat-bagi-muslim-pengguna-internet/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=368&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/21/nasehat-bagi-muslim-pengguna-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/laptop.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">laptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hafshah Binti Umar bin Khaththab</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/hafshah-binti-umar-bin-khaththab/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/hafshah-binti-umar-bin-khaththab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=364&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/love62.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-365" title="love62" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/love62.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Umar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa beliau bersedia menikahi Hafshah.</p>
<p>Jika kita menyebut narna Hafshah, ingatan kita akan tertuju pada jasa-jasanya yang besar terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang sangat agung.</p>
<p><strong>Nasab dan Masa Pertumbuhannya</strong></p>
<p>Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un. Hafshah dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu ketika Rasullullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka’bah dibangun kembali setelah roboh karena banjir. Pada tahun itu juga dilahirkan Fathimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari empat putri, dan kelahirannya disambut gembira oleh beliau.</p>
<p>Beberapa hari setelah Fathimah lahir, lahirlah Hafshah binti Umar bin Khaththab. Mendengar bahwa yang lahir adalah bayi wanita, Umar sangat berang dan resah, sebagaimana kebiasaan bapak-bapak Arab Quraisy ketika mendengar berita kelahiran anak perempuannya. Waktu itu mereka menganggap bahwa kelahiran anak perempuan telah membawa aib bagi keluarga. Padahal jika saja ketika itu Umar tahu bahwa kelahiran anak perempuannya akan membawa keberuntungan, tentu Umar akan menjadi orang yang paling bahagia, karena anak yang dinamai Hafshah itu kelak menjadi istri Rasulullah. Di dalam Thabaqat, Ibnu Saad berkata, “Muhammad bin Umar berkata bahwa Muhammad bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, ‘Hafshah dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebelum Nabi diutus menjadi Rasul.”</p>
<p>Sayyidah Hafshah radhiyallahu ‘anha dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya, Umar bin Khaththab. Dalam soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sama dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dimiliki Hafshah adalah kepandaiannya dalam rnembaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.</p>
<p><strong>Memeluk Islam </strong></p>
<p>Hafshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam, karena ketika awal-awal penyebaran Islam, ayahnya, Umar bin Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam hingga suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam. Ketika suatu waktu Umar mengetahui keislaman saudara perempuannya, Fathimah dan suaminya Said bin Zaid, dia sangat marah dan berniat menyiksa mereka. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Umar mendengar bacaan Al-Qur’an yang mengalun dan dalam rumah, dan memuncaklah amarahnya ketika dia memasuki rumah tersebut. Tanpa ampun dia menampar mereka hingga darah mengucur dari kening keduanya. Akan tetapi, hal yang tidak terduga terjadi, hati Umar tersentuh ketika melihat darah mengucur dari dahi adiknya, kemudian diambilnyalah Al Qur’an yang ada pada mereka. Ketika selintas dia membaca awal surat <em>Thaha</em>, terjadilah keajaiban. Hati Umar mulai diterangi cahaya kebenaran dan keimanan. Allah telah mengabulkan doa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengharapkan agar Allah membuka hati salah seorang dari dua Umar kepada Islam. Yang dimaksud Rasulullah dengan dua Umar adalah Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahl dan Umar bin Khaththab.</p>
<p>Setelah kejadian itu, dari rumah adiknya dia segera menuju Rasulullah dan menyatakan keislaman di hadapan beliau, Umar bin Khaththab bagaikan bintang yang mulai menerangi dunia Islam serta mulai mengibarkan bendera jihad dan dakwah hingga beberapa tahun setelah Rasulullah wafat. Setelah menyatakan keislaman, Umar bin Khaththab segera menemui sanak keluarganya untuk mengajak mereka memeluk Islam. Seluruh anggota keluarga menerima ajakan Umar, termasuk di dalamnya Hafshah yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.</p>
<p><strong>Menikah dan Hijrah ke Madinah</strong></p>
<p>Keislaman Umar membawa keberuntungan yang sangat besar bagi kaum muslimin dalam menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Kabar keislaman Umar ini memotivasi para muhajirin yang berada di Habasyah untuk kembali ke tanah asal mereka setelah sekian lama ditinggalkan. Di antara mereka yang kembali itu terdapat seorang pemuda bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahami. Pemuda itu sangat mencintai Rasulullah sebagaimana dia pun mencintai keluarga dan kampung halamannya. Dia hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan diri dan agamanya. Setibanya di Mekah, dia segera mengunjungi Umar bin Khaththab, dan di sana dia melihat Hafshah. Dia meminta Umar untuk menikahkan dirinya dengan Hafshah, dan Umar pun merestuinya. Pernikahan antara mujahid dan mukminah mulia pun berlangsung. Rumah tangga mereka sangat berbahagia karena dilandasi keimanan dan ketakwaan.</p>
<p>Ketika Allah menerangi penduduk Yatsrib sehingga memeluk Islam, Rasulullah. menemukan sandaran baru yang dapat membantu kaum muslimin. Karena itulah beliau mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib untuk menjaga akidah mereka sekaligus menjaga mereka dan penyiksaan dan kezaliman kaum Quraisy. Dalam hijrah ini, Hafshah dan suaminya ikut serta ke Yatsrib.</p>
<p><strong>Cobaan dan Ganjaran</strong></p>
<p>Setelah kaum muslirnin berada di Madinah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menyatukan mereka dalam satu barisan yang kuat, tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi orang musyrik yang telah memusuhi dan mengambil hak mereka. Selain itu, perintah Allah untuk berperang menghadapi orang musyrik sudah tiba.</p>
<p>Peperangan pertama antara umat Islam dan kaum musyrik Quraisy adalah Perang Badar. Dalam peperangan ini, Allah telah menunjukkan kemenangan bagi hamba- hamba-Nya yang ikhlas sekalipun jumlah mereka masih sedikit. Khunais termasuk salah seorang anggota pasukan muslimin, dan dia mengalami luka yang cukup parah sekembalinya dari peperangan tersebut. Hafshah senantiasa berada di sisinya dan mengobati luka yang dideritanya, namun Allah berkehendak memanggil Khunais sebagai syahid dalam peperangan pertama melawan kebatilan dan kezaliman, sehingga Hafshah menjadi janda. Ketika itu usia Hafshah baru delapan belas tahun, namun Hafshah telah memiliki kesabaran atas cobaan yang menimpanya.</p>
<p>Umar sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda, sehingga dalam hatinya terbetik niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang saleh agar hatinya kembali tenang. Untuk itu dia pergi ke rumah Abu Bakar dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikit pun.</p>
<p>Kemudian Umar menemui Utsman bin Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, pada saat itu Utsman masih berada dalam kesedihan karena istrinya, Ruqayah binti Muhammad, baru meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Uman sangat kecewa, dan dia bertambah sedih karena memikirkan nasib putrinya. Kemudian dia menemui Rasulullah dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<em> “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.”</em> Semula Umar tidak memahami maksud ucapan Rasulullah, tetapi karena kecerdasan akalnya, dia kemudian memahami bahwa Rasulullah yang akan meminang putrinya.</p>
<p>Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah untuk menikahi putrinya, dan kegembiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menemui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah. Abu Bakar berkata, “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah telah menyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin membuka rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya, tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya. Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud menyunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan Rasulullah. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki <em>dzunnuraini</em> (pemilik dua cahaya). Pernikahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan Hafshah lebih dianggap sebagai penghargaan beliau terhadap Umar, di samping juga karena Hafshah adalah seorang janda seorang mujahid dan muhajir, Khunais bin Hudzafah as-Sahami.</p>
<p><strong>Berada di Rumah Rasulullah </strong></p>
<p>Di rumah Rasulullah, Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah binti Zum’ah dan Aisyah binti Abu Bakar. Secara manusiawi, Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya, lain halnya Saudah binti Zum’ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita mulia putri Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah yang terhormat.</p>
<p>Umar memahami bagaimana tingginya kedudukan Aisyah di hati Rasulullah. Dia pun rnengetahui bahwa orang yang rnenyebabkan kemarahan Aisyah sama halnya dengan menyebabkan kemarahan Rasulullah, dan yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah. Karena itu Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mencintainya. Selain itu, Umar meminta agar Hafshah rnenjaga tindak-tanduknya sehingga di antara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi, memang sangat manusiawi jika di antara mereka rnasih saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari rasa cemburu. Dengan lapang dada Rasulullab shalallahu ‘alaihi wa sallam mendamaikan mereka tanpa menimbulkan kesedihan di antara istri – istrinya.</p>
<p>Salah satu contoh adalah kejadian ketika Hafshah melihat Mariyah al-Qibtiyah datang rnenemui Nabi dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalarn rumah Hafshah yang ketika itu sedang pergi ke rumah ayahnya, dia melihat tabir kamar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah dan Mariyah berada di dalamnya. Melihat kejadian itu, amarah Hafshah meledak. Hafshah menangis penuh amarah. Rasulullah berusaha membujuk dan meredakan amarah Hafshah, bahkan beliau bersumpah rnengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak meminta maaf pada Hafshah, dan Nabi meminta agar Hafshah rnerahasiakan kejadian tersebut.</p>
<p>Merupakan hal yang wajar jika istri-istri Rasulullah merasa cemburu terhadap Mariyah, karena dialah satu-satunya wanita yang melahirkan putra Rasulullah setelah Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha. Kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu akhirnya diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau sangat marah. Sebagian riwayat mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menceraikan Hafshah, namun beberapa saat kemudian beliau merujuknya kembali karena melihat ayah Hafshah, Umar, sangat resah. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah bermaksud menceraikan Hafshah, tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk mempertahankan Hafshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terlebih karena tersebut Hafshah sangat menyesali perbuatannya dengan membuka rahasia dan memurkakan Rasulullah.</p>
<p>Umar bin Khaththab mengingatkan putrinya agar tidak lagi membangkitkan amarah Rasulullah dan senantiasa menaati serta mencari keridhaan beliau. Umar bin Khaththab meletakkan keridhaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada tempat terpenting yang harus dilakukan oleh Hafshah. Pada dasarnya, Rasulullah menikahi Hafshah karena memandang keberadaan Umar dan merasa kasihan terhadap Hafshah yang ditinggalkan suaminya. Allah menurunkan ayat berikut ini sebagai antisipasi atas isu-isu yang tersebar.</p>
<p><em>“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu,- kamu mencari kesenangan hati istri -istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dan sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dan istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang haik; dan selain dan itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.”</em> (QS. At-Tahrim:1-5)</p>
<p><strong>Cobaan Besar </strong></p>
<p>Hafshah senantiasa bertanya kepada Rasulullah dalam berbagai masalah, dan hal itu menyebabkan marahnya Umar kepada Hafshah, sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memperlakukan Hafshah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau bersabda, <em>“Berwasiatlah engkau kepada kaum wanita dengan baik.”</em> Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah besar kepada istri-istrinya ketika mereka meminta tambahan nafkah sehingga secepatnya Umar mendatangi rumah Rasulullah.</p>
<p>Umar melihat istri-istri Rasulullah murung dan sedih, sepertinya telah terjadi perselisihan antara mereka dengan Rasulullah. Secara khusus Umar memanggil putrinya, Hafshah, dan mengingatkannya untuk menjauhi perilaku yang dapat membangkitkan amarah beliau dan menyadari bahwa beliau tidak memiliki banyak harta untuk diberikan kepada mereka. Karena marahnya, Rasulullah bersumpah untuk tidak berkumpul dengan istri-istri beliau selama sebulan hingga mereka menyadari kesalahannya, atau menceraikan mereka jika mereka tidak menyadari kesalahan. Kaitannya dengan hal ini, Allah berfirman,</p>
<p><em>“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar.” </em>(QS. Al-Ahzab)</p>
<p>Rasulullah . menjauhi istri-istrinya selama sebulan di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah, dan seorang budak bernama Rabah duduk di depan pintu kamar.</p>
<p>Setelah kejadian itu tersebarlah kabar yang meresahkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam telah menceraikan istri-istri beliau. Yang paling merasakan keresahan adalah Umar bin Khaththab, sehingga dia segera menemui putrinya yang sedang menangis. Umar berkata, “Sepertinya Rasulullah telah menceraikanmu.” Dengan terisak Hafshah menjawab, “Aku tidak tahu.” Umar berkata, “Beliau telah menceraikanmu sekali dan merujukmu lagi karena aku. Jika beliau menceraikanmu sekali lagi, aku tidak akan berbicara denganmu selama-lamanya.” Hafshah menangis dan menyesali kelalaiannya terhadap suami dan ayahnya. Setelah beberapa hari Rasulullah menyendiri, belum ada seorang pun yang dapat memastikan apakah beliau menceraikan istri-istri beliau atau tidak. Karena tidak sabar, Umar mendatangi khazanah untuk menemui Rasulullah yang sedang menyendiri. Sekarang ini Umar menemui Rasulullah bukan karena anaknya, melainkan karena cintanya kepada beliau dan merasa sangat sedih melihat keadaan beliau, di samping memang ingin memastikan isu yang tersebar. Dia merasa putrinyalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau. Umar pun meminta penjelasan dari beliau walaupun di sisi lain dia sangat yakin bahwa beliau tidak akan menceraikan istri–istri beliau. Dan memang benar, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menceraikan istri-istri beliau sehingga Umar meminta izin untuk mengumumkan kabar gembira itu kepada kaum muslimin. Umar pergi ke masjid dan mengabarkan bahwa Rasulullah . tidak menceraikan istri-istri beliau. Kaum muslimin menyambut gembira kabar tersebut, dan tentu yang lebih gembira lagi adalah istri-istri beliau.</p>
<p>Setelah genap sebulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya, beliau kembali kepada mereka. Beliau melihat penyesalan tergambar dari wajah mereka. Mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk lebih meyakinkan lagi, beliau rnengumumkan penyesalan mereka kepada kaum muslimin. Hafshah dapat dikatakan sebagai istri Rasul yang paling menyesal sehingga dia mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai tebusan bagi Rasulullah. Hafshah memperbanyak ibadah, terutama puasa dan shalat malam. Kebiasaan itu berlanjut hingga setelah Rasulullah wafat. Bahkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, dia mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan besar, baik di bagian timur maupun barat.</p>
<p>Hafshah merasa sangat kehilangan ketika ayahnya meninggal di tangan Abu Lu’luah. Dia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman, yang ketika itu terjadi fitnah besar antar muslimin yang menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman hingga masa pembai’atan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ketika itu, Hafshah berada pada kubu Aisyah sebagaimana yang diungkapkannya, “Pendapatku adalah sebagaimana pendapat Aisyah.” Akan tetapi, dia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang menyatakan diri berba’iat kepada Ali bin Abi Thalib karena saudaranya, Abdullah bin Umar, memintanya agar berdiam di rumah dan tidak keluar untuk menyatakan ba’iat.</p>
<p>Tentang wafatnya Hafshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke empat puluh tujuh pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Nabi yang lain.</p>
<p><strong>Pemilik Mushaf yang Pertama </strong></p>
<p>Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya Al-Qur’an di tangannya setelah mengalami penghapusan karena dialah satu-satunya istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Rasul, Al-Qur’an terjaga di dalam dada dan dihafal oleh para sahabat untuk kemudian dituliskan pada pelepah kurma atau lembaran-lembaran yang tidak terkumpul dalam satu kitab khusus.</p>
<p>Pada masa khalifah Abu Bakar, para penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan melawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer. Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan Umar, Abu bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Qur’an itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal.</p>
<p>Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Hafshah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.</p>
<p>- shalihah.com</p>
<h4>Sumber : Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh</h4>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=364&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/hafshah-binti-umar-bin-khaththab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/love62.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">love62</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saudah binti Zam`ah</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/saudah-binti-zamah/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/saudah-binti-zamah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:30:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun Saudah binti Zum’ah tidak terlalu populer dibandingkan dengan istri Rasulullah lainnya, dia tetap termasuk wanita yang memiliki martabat yang mulia dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dia telah ikut berjihad di jalan Allah dan termasuk wanita yang pertama kali hijrah ke Madinah. Perjalanan hidupnya penuh dengan teladan yang baik, terutama bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=360&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/kembang103.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-361" title="kembang103" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/kembang103.jpg?w=477" alt=""   /></a></p>
<p>Walaupun Saudah binti Zum’ah tidak terlalu populer dibandingkan dengan istri Rasulullah lainnya, dia tetap termasuk wanita yang memiliki martabat yang mulia dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dia telah ikut berjihad di jalan Allah dan termasuk wanita yang pertama kali hijrah ke Madinah. Perjalanan hidupnya penuh dengan teladan yang baik, terutama bagi wanita-wanita sesudahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menikahinya bukan semata-mata karena harta dan kecantikannya, karena memang dia tidak tergolong wanita cantik dan kaya. Yang dilihat Rasulullah adalah semangat jihadnya di jalan Allah, kecerdasan otaknya, perjalanan hidupnya yang senantiasa baik, keimanan, serta keikhlasannya kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p><strong>Dia adalah Seorang Janda </strong></p>
<p>Telah kita ketahui bahwa pada tahun-tahun kesedihan karena ditinggal wafat oleh Abu Thalib dan Khadijah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah mengalami masa sulit. Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh orang-orang Quraisy untuk menyiksa Rasulullah dan kaum muslimin. Pada tahun-tahun ini, terasa cobaan dan kesedihan datang sangat besar dan silih berganti.</p>
<p>Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berpikir untuk kembali ke Tsaqif atau Thaif, dengan harapan agar orang-orang di Thaif memperoleh hidayah untuk masuk Islam dan membantu beliau. Akan tetapi, masyarakat Tsaqif menolak mentah-mentah kehadiran beliau, bahkan mereka memerintahkan anak-anak mereka melempari beliau dengan batu, hingga kedua tumit beliau luka dan berdarah. Walaupun begitu, beliau tetap sabar, bahkan tetap mendoakan mereka agar memperoleh hidayah.</p>
<p>Dalam keadaan kesepian sesudah kematian Khadijah, terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj. Malaikat Jibril membawa Rasulullah ke Baitul Maqdis dengan kendaraan Buraq, kemudian menuju langit ke tujuh, dan di sana beliau menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah. Ketika kembali ke Mekah, beliau menuju Ka’bah dan mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan kisah perjalanan beliau yang sangat menakjubkan itu. Kaum musyrikin yang mendengar kisah itu tidak mempercayainya, bahkan mengolok-olok beliau, Bertambahlah hambatan dan rintangan yang harus beliau hadapi. Dalam kondisi seperti itu, tampillah Saudah binti Zum’ah yang ikut berjuang dan senantiasa mendukung Rasulullah, kemudian dia menjadi istri Rasulullah yang kedua setelah Khadijah.</p>
<p>Terdapat beberapa kisah yang menyertai pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zum’ah. Tersebutlah Khaulah binti Hakim, salah seorang mujahid wanita yang pertama masuk Islam. Khaulah adalah istri Ustman bin Madh’um. Dia yang dikenal sebagai wanita yang berpendirian kuat, berani, dan cerdas, sehingga dia memiliki nilai tersendiri bagi Rasulullah.</p>
<p>Melalui kehalusan perasaan dan kelembutan fitrahnya, Khaulah sangat memahami kondisi Rasulullah yang sangat membutuhkan pendamping, yang nantinya akan menjaga dan mengawasi urusan beliau serta mengasuh Ummu Kultsum dan Fathimah setelah Zainab dan Ruqayah menikah. Pada mulanya, Utsman bin Madh’um kurang sepakat dengan pemikiran Khaulah, karena khawatir hal itu akan menambah beban Rasulullah, namun dia tetap pada pendiriannya.</p>
<p>Kemudian Khaulah menemui Rasulullah dan bertanya langsung tentang orang yang akan mengurus rumah tangga beliau.</p>
<p>Dengan saksama, beliau mendengarkan seluruh pernyataan Khaulah karena baru pertama kali ini ada orang yang memperhatikan masalah rumah tangganya dalam kondisi beliau yang sangat sibuk dalam menyebarkan agama Allah.</p>
<p>Beliau melihat bahwa apa yang diungkapkan Khaulah mengandung kebenaran, sehingga beliau pun bertanya, “Siapakah yang kau pilih untukku?” Dia menjawab, “Jika engkau menginginkan seorang gadis, dia adalah Aisyah binti Abu Bakar, dan jika yang engkau inginkan adalah seorang janda, dia adalah Saudah binti Zum’ah.” Rasulullah mengingat nama Saudah binti Zum’ah, yang sejak keislamannya begitu banyak memikul beban perjuangan menyebarkan Islam, sehingga pilihan beliau jatuh pada Saudah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memilih janda yang namanya hanya dikenal oleh beberapa orang. Pernikahan beliau dengannya tidak didorong oleh keinginan untuk memenuhi nafsu duniawi, tetapi lebih karena Rasulullah yakin bahwa Saudah dapat ikut serta menjaga keluarga dan rumah tangga beliau setelah Khadijah wafat.</p>
<p>Jika kita rajin menyimak beberapa catatan sejarah tentang kehidupan Rasulullah yang berkaitan dengan Saudah binti Zum’ah, kita akan menemukan beberapa keterangan tentang sosok Saudah. Saudah adalah seorang wanita yang tinggi besar, berbadan gemuk, tidak cantik, juga tidak kaya. Dia adalah janda yang ditinggal mati suaminya. Rasulullah memilihnya sebagai istri karena kadar keimanannya yang kokoh. Dia termasuk wanita pertama yang masuk Islam dan sabar menanggung kesulitan hidup.</p>
<p><strong>Nasab dan Keislamannya </strong></p>
<p>Saudah binti Zum’ah yang bernama lengkap Saudah binti Zum’ah bin Abdi Syamsin bin Abdud dari Suku Quraisy Amiriyah.</p>
<p>Nasabnya ini bertemu dengan Rasulullah pada Luay bin Ghalib. Di antara keluarganya, dia dikenal memiliki otak cemerlang dan berpandangan luas. Pertama kali dia menikah dengan anak pamannya, Syukran bin Amr, dan menjadi istri yang setia dan tulus. Ketika Rasulullah menyebarkan Islam dengan terang-terangan, suaminya, Syukran, termasuk orang yang pertama kali menerima hidayah Allah. Dia memeluk Islam bersama kelompok orang dari Bani Qais bin Abdu Syamsin.</p>
<p>Setelah berbai’at di hadapan Nabi, dia segera menemui istrinya, Saudah, dan memberitakan tentang keislaman serta agama baru yang dianutnya. Kecemerlangan pikiran dan hatinya menyebabkan Saudah cepat memahami ajaran Islam untuk selanjutnya mengikuti suami menjadi seorang muslimah.</p>
<p><strong>Hijrah ke Habbasyah</strong></p>
<p>Keislaman Syukran, Saudah, dan beberapa orang yang mengikuti jejak mereka berakibat cemoohan, penganiayaan, dan pengasingan dari keluarga terdekat mereka. Karena itu, Syukran menemui Rasulullah beserta beberapa keluarganya yang sudah memeluk Islam, seperti saudaranya (Saud dan Hatib), keponakannya (Abdullah bin Sahil bin Amr), ditambah saudara kandung Saudah (Malik bin Zum’ah). Rasulullah menasihati agar mereka tetap kokoh berpegang pada akidah dan menyarankan agar mereka hijrah ke Habasyah, mengikuti saudara-saudara seiman yang telah terlebih dahulu hijrah, seperti Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayah binti Muhammad. Akhirnya, kaum muslimin memutuskan untuk hijrah. Di antara kaum muslimin yang hijrah ke dua ke Habasyah, terdapat Saudah yang turut merasakan pedihnya meninggalkan kampung halaman serta sulitnya menempuh perjalanan dan cuaca buruk demi menegakkan agama yang diyakininya.</p>
<p>Di Habasyah mereka disambut dan diperlakukan baik oleh Raja Habasyah walaupun keyakinan mereka berbeda, sehingga beberapa hari lamanya mereka menjadi tamu raja. Akan tetapi, rasa rindu mereka dan keinginan untuk melihat wajah Rasulullah mendera mereka. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke Mekah, mereka mengisi waktu dengan mengenang kehangatan berkumpul dengan Rasulullah dan saudara-saudara seiman di Mekah. Ketika mendengar keislaman Umar bin Khaththab, mereka menyambut dengan suka cita. Betapa tidak, Umar bin Khaththab adalah pemuka Quraisy yang disegani. Karena itu, mereka memutuskan untuk kembali ke Mekah dengan harapan Umar dapat menjamin keselamatan mereka dan gangguan kaum Quraisy. Di antara mereka yang ikut kembali adalah Syukran bin Amr. Akan tetapi, dalam perjalanan, Syukran jatuh sakit karena kelaparan sejak kakinya menginjak tanah Habasyah. Akhirnya dia meninggal di tengah perjalanan menuju Mekah.</p>
<p>Betapa sedih perasaan Saudah binti Zum’ah ketika mendengar suaminya meninggal dunia. Baru saja dia mengalarni betapa sedihnya meninggalkan kampung halaman, sulitnya perjalanan ke Habasyah, cemoohan, dan penganiayaan orang-orang Quraisy, sekarang dia harus merasakan sedihnya ditinggal suami. Dia merasa kehilangan orang yang senantiasa bersamanya dalam jihad di jalan Allah.</p>
<p><strong>Rahmat Allah </strong></p>
<p>Saudah binti Zum’ah menanggung semua derita itu dengan kepasrahan dan ketabahan, serta menyerahkan semuanya kepada Allah dengan senantiasa mengharapkan keridhaan-Nya. Dia kembali ke Mekah sebagai satu-satunya janda, dengan perkiraan bahwa keadaan kaum muslimin di Mekah sudah membaik setelah beberapa pemuka Quraisy menyatakan memeluk Islam. Akan tetapi, ternyata kezaliman orang-orang Quraisy tetap merajalela. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada pilihan lain baginya selain kembali ke rumah ayahnya, Zum’ah bin Qais yang masih memeluk agama nenek moyang.</p>
<p>Akan tetapi, Zum’ah bin Qais tetap menerima dan rnenghormati putrinya. Tidak sedikit pun dia berusaha membujuk agar putrinya meninggalkan Islam dan kembali menganut kepercayaan nenek moyang.</p>
<p>Ketika Khaulah binti Hakim berusaha mencarikan istri untuk Rasulullah, dia menyebut nama Saudah. Dalam diri Saudah, Rasulullah tidak melihat kecantikannya, tetapi lebih melihat bahwa Saudah adalah sosok wanita yang sabar, mujahidah yang hijrah bersama kaum muslimin, dan mampu menjadi pemimpin di rumah ayahnya yang masih musyrik. Karena itulah, Rasulullah tergerak menikahinya dan menjadikannya sebagai istri yang akan meringankan beban hidupnya. Khaulah menemui Saudah dan menyampaikan kabar gembira bahwa tidak semua wanita dianugerahi Allah menjadi istri Rasulullah serta menjadi istri manusia yang paling mulia dan hamba pilihan-Nya. Ketika bertemu dengan Saudah, Khaulah berteriak, “Apa gerangan yang telah engkau perbuat sehingga Allah memberkahimu dengan nikmat yahg sebesar ini? Rasulullah mengutusku untuk meminang engkau baginya.” Sungguh, hal itu merupakan berita besar. Saudah tidak pernah memimpikan kehormatan sebesar itu, terutama setelah orang-orang mencampakkannya karena kematian suaminya.</p>
<p>Rasulullah yang mulia benar-benar akan menjadikannya sebagai istri. Dengan perasaan terharu dia menyetujui permintaan itu dan meminta Khaulah menemui ayahnya. Setelah Zum’ah bin Qais mengetahui siapa yang akan meminang putrinya, dan Saudah pun sudah setuju, lamaran itu langsung diterimanya, kemudian meminta Rasulullah Muhammad datang ke rumahnya. Rasulullah memenuhi undangan tersebut bersama Khaulah, dan perkawinan itu terlaksana dengan baik.</p>
<p><strong>Berada di Rumah Rasulullah </strong></p>
<p>Saudah mulai memasuki rumah tangga Rasulullah, dan di dalarnnya dia merasakan kehormatan yang sangat besar sebagai wanita. Dia merawat Ummu Kultsum dan Fathimah seperti merawat anaknya sendiri. Ummu Kultsum dan Fathimah pun menghargai dan memperlakukan Saudah dengan baik.</p>
<p>Saudah memiliki kelembutan dan kesabaran yang dapat menghibur hati Rasulullah, sekaligus memberi semangat. Dia tidak terlalu berharap dirinya dapat sejajar dengan Khadijah di hati Rasulullah. Dia cukup puas dengan posisinya sebagai istri Rasulullah dan Ummul-Mukminin. Kelembutan dan kemanisan tutur katanya dapat menggantikan wajahnya yang tidak begitu cantik, tubuhnya yang gemuk, dan umurnya yang sudah tua. Apa pun yang dia lakukan semata-mata untuk menghilangkan kesedihan Rasulullah. Sewaktu-waktu dia meriwayatkan hadits-hadits beliau untuk menunjukkan suka citanya di hadapan Nabi.</p>
<p>Beberapa bulan lamanya Saudah berada di tengah-tengah keluarga Rasulullah. Keakraban dan keharmonisan mulai terjalin antara dirinya dan Rasulullah. Dia tidak pernah melakukan apa pun yang dapat menyakitkan Rasulullah. Akan tetapi, pada dasarnya, dia belum mampu mengisi kekosongan hati Rasulullah, walaupun dia telah memperoleh limpahan kasih dan beliau, sehingga beberapa saat kemudian turun wahyu Allah yang memerintahkan Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar yang masih sangat belia. Rasulullah menemui Abu Bakar dan menjelaskan makna wahyu Allah kepadanya. Dengan kerelaan hati, Abu Bakar menerima putrinya menikah dengan Rasulullah, dan disuruhnya Aisyah menemui beliau. Setelah melihat Aisyah, beliau mengumumkan pinangan terhadap Aisyah.</p>
<p>Lantas, sikap apa yang dilakukan Saudah ketika mengetahui pertunangan tersebut Dia rela dan tidak sedikit pun memiliki perasaan cemburu. Dia merelakan madunya berada di tengah keluarga Rasulullah. Dia merasa cukup bangga menyandang gelar Ummul-Mukminin, dapat menyayangi Rasulullah, dan dapat meyakini ajarannya, sehingga dia tidak terpengaruh oleh kepentingan duniawi.</p>
<p><strong>Hijrahnya ke Madinah </strong></p>
<p>Pertama kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam hijrah ke Madinah tanpa keluarga. Setelah menetap di sebuah rumah, beliau mengutus seseorang membawa keluarganya, termasuk Saudah binti Zum’ah. Bersama Ummu Kultsum dan Fathimah, Saudah menuju Madinah, dan itu merupakan hijrahnya yang kedua setelah ke Habasyah. Bedanya, sekarang ini dia hijrah menuju negeri muslim yang masyarakatnya sudah berbai’at setia kepada Rasulullah.</p>
<p>Setelah masjid Nabawi di Yatsrib selesai dibangun, dibangunlah rumah Rasulullah di samping masjid tersebut. Di rumah itulah Saudah dan putri-putri Nabi tinggal, hingga Ummu Kultsum dan Fathimah menyayangi Saudah seperti kepada ibu kandung sendiri. Setelah masyarakat Islam di Yatsrib terbentuk dan sarana ibadah selesai dibangun, Abu Bakar mengingatkan Rasulullah agar segera menikahi putrinya, “Bukankah engkau hendak membangun keluargamu, ya Rasul?”</p>
<p>Ketika itu kehidupan Rasulullah tersibukkan oleh dakwah dan jihad di jalan Allah, sehingga kepentingan pribadinya tidak sempat terpikirkan. Ketika Abu Bakar mengingatkannya, barulah beliau sadar dan segera menikahi Aisyah. Kemudian beliau membangun kamar untuk Aisyah yang bersebelahan dengan kamar Saudah.</p>
<p><strong>Sikap Hidupnya </strong></p>
<p>Sejarah banyak mencatat sikap Saudah terhadap Aisyah binti Abu Bakar. Wajahnya senantiasa ceria dan tutur katanya selalu lembut, bahkan dia sering membantu menyelesaikan urusan-urusan Aisyah, sehingga Aisyah sangat mencintai Saudah. Begitulah kecintaannya kepada Rasulullah sangat melekat erat di dasar hati. Segala sesuatunya dia niatkan untuk memperoleh kerelaan Rasulullah melalui pengabdian yang tulus terhadap keluarga beliau, tanpa keluh kesah. Baginya, kenikmatan yang paling besar di dunia ini adalah melihat Rasulullah senang dan tertawa. Aisyah berkata, “Tidak ada wanita yang lebih aku cintai untuk berkumpul bersamanya selain Sàudah binti Zum’ah, karena dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiiki wanita lain.” Itu merupakan pengakuan Aisyah, wanita yang pikirannya cerdas dan senantiasa jernih, yang selalu ingin bersama Saudah dalam jihad, keyakinan, kesabaran, dan keteguhannya. Saudah merelakan malam-malam gilirannya untuk Aisyah semata-mata untuk memperoleh keridhaan Rasulullah. Aisyah mengisahkan, ketika usia Saudah semakin uzur dan Rasulullah ingin menceraikannya, Saudah berkata, “Aku mohon jangan ceraikan diriku. Aku ingin selalu berkumpul dengan istri-istrimu. Aku rela menyerahkan malam-malamku untuk Aisyah. Aku sudah tidak menginginkan lagi apa pun yang biasa diinginkan kaum wanita.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pun mengurungkan niatnya.</p>
<p>Sebenarnya Rasulullah ingin menceraikan Saudah dengan baik-baik agar Saudah tidak bermasalah dengan istri-istri beliau yang lainnya. Akan tetapi, Saudah menginginkan Rasulullah tetap mengikatnya hingga akhir hayatnya agar dia dapat berkumpul dengan istri-istri Rasulullah. Alasan itulah yang menyebabkan Rasulullah tetap mempertahankan pernikahannya dengan Saudah.</p>
<p>Saudah mendampingi Rasulullah dalam Perang Khaibar. Biasanya, sebelum berangkat berperang, Rasulullah mengundi dahulu istri yang akan menyertai beliau. Dalam Perang Khaibar, undian jatuh pada diri Saudah, dan kali ini Rasulullah disertai pendamping yang sabar. Dalam perang ini banyak sekali kesulitan yang dialami Saudah, karena banyak juga kaum muslimin yang syahid sebelum Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Dalam kemenangannya, kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang yang belum pernah mereka alami pada peperangan lainnya. Saudah pun mendapatkan bagian rampasan perang ini. Pada peperangan ini pula Rasulullah menikahi Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab. Mendengar hal itu pun Saudah tetap rela dan menerima kehadiran Shafiyyah karena hatinya bersih dari sifat iri dan cemburu.</p>
<p>Saudah menunaikan haji wada’ bersama istri-istri Rasul lainnya. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam meninggal, Saudah tidak pernah lagi menunaikan ibadah haji karena khawatir melanggar ketentuan beliau. Beberapa saat setelah haji wada’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sakit keras. Beliau meminta persetujuan istri-istri beliau yang lain untuk tinggal di rumah Aisyah. Ketika Nabi sakit, Saudah tidak pernah putus-putusnya menjenguk beliau dan membantu Aisyah sampai beliau wafat. Setelah beliau wafat, dia memutuskan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Harta bagiannya dan Baitul Mal sebagian besar dia salurkan di jalan Allah dengan semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya.</p>
<p>Dia tidak pernah meninggalkan kamarnya kecuali untuk kebutuhan yang mendesak. Pada saat-saat seperti itu Abu Bakar selalu menjenguknya karena dia tahu bahwa Saudah sangat mencintai putrinya.</p>
<p>Pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, Saudah tetap menyendiri untuk beribadah hingga ajal menjemputnya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa dia meninggal pada tahun ke-19 Hijrah, sementara itu ada juga riwayat yang mengatakan bahwa dia meninggal pada tahun ke-54 hijrah. Yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat pertama, karena pada masa Rasulullah pun Saudah sudah termasuk tua.</p>
<p><strong>Sifat dan Keutamaannya </strong></p>
<p>Hal istimewa yang dimiliki Saudah adalah kekuatannya dan keteguhannya dalam menanggung derita, seperti pengusiran, penganiayian, dan bentuk kezaliman lainnya, baik yang datangnya dari kaum Quraisy maupun dan keluarganya sendiri.</p>
<p>Hal seperti itu tidak mudah dia lakukan, karena perjalanan yang harus ditempuhnya itu sangat sulit serta perasaan yang berat ketika harus meninggalkan keluarga dan kampung halaman.</p>
<p>Sifat mulia yang juga menonjol darinya adalah kesabaran dan keridhaannya menerima takdir Allah ketika suaminya meninggal, harus kembali ke rumah orang tua yang masih musyrik, hingga Rasulullah memilihnya menjadi istri. Selama berada di tengah-tengah Rasulullah, keimanan dan ketakwaannya bertambah. Dia pun bertambah rajin beribadah.</p>
<p>Jelasnya, kadar keimanannya berada di atas manusia rata-rata. Di dalam hatinya tidak pernah ada perasaan cemburu terhadap istri-istri Rasulullah lainnya.</p>
<p>Saudah pun dikenal dengan kemurahan hatinya dan suka bersedekah. Pada sebagian riwayat dikatakan bahwa Saudah paling gemar bersedekah di jalan Allah, baik ketika Rasulullah masih hidup maupun pada masa berikutnya, yaitu pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar.</p>
<p>Pembawaan yang ceria dan menyenangkan dia curahkan untuk menghibur Rasulullah. Karakter seperti itu merupakan teladan yang baik bagi setiap istri hingga saat ini. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Saudah binti Zum’ah dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.</p>
<p>- shalihah.com -</p>
<h4>Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh</h4>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/360/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=360&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/saudah-binti-zamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/kembang103.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kembang103</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aisyah Binti Abu Bakar</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/aisyah-binti-abu-bakar/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/aisyah-binti-abu-bakar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah yang telah banyak dikenal. Aisyah laksana lautan luas dalam kedalaman ilmu dan takwa. Di kalangan wanita, dialah sosok yang banyak menghafal hadits-hadits Nabi, dan di antara istri-istri Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=356&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/kembang101.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-357" title="kembang101" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/kembang101.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah yang telah banyak dikenal. Aisyah laksana lautan luas dalam kedalaman ilmu dan takwa. Di kalangan wanita, dialah sosok yang banyak menghafal hadits-hadits Nabi, dan di antara istri-istri Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang tua Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah.</p>
<p>Ketika wahyu datang kepada Rasulullah, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya di dunia dan akhirat, sebagaimana diterangkan di dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah :</p>
<p>‘Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutera hijau kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam., lalu berkata, ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.”</p>
<p>Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.</p>
<h3>Nasab dan Masa KeciI Aisyah</h3>
<p>Aisyah adalah putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Marrah bin Ka’ab bin Luay, yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq dan berasal dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayahnya adalah ash-Shiddiq dan orang pertama yang mempercayai Rasulullah ketika terjadi Isra’ Mi’raj, saat orang-orang tidak mempercayainya.</p>
<p>Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi, riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau Wa’id binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams. Aisyah pun digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana perkataannya, “Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam.”</p>
<p>Ummu Ruman memberikan dua orang anak kepada Abu Bakar, yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Anak lainnya, yaitu Abdullah dan Asma, berasal dan Qatlah binti Abdul Uzza, istri pertama yang dia nikahi pada masa jahiliyah. Ketika masuk Islam, Abu Bakar menikahi Asma binti Umais yang kemudian melahirkan Muhammad, juga menikahi Habibah binti Kharijah yang melahirkan Ummu Kultsum. Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi diutus menjadi Rasulullah. Ketika dakwah Islam dihambat oleh orang-orang musyrik, Aisyah melihat bahwa ayahnya menanggung beban yang sangat besar. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa Rasulullah membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.</p>
<h3>Pernikahan yang Penuh Berkah</h3>
<p>Dua tahun setelah wafatnya Khadijah rhadiyallahu ‘anha, datang wahyu kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam untuk menikahi Aisyah.</p>
<p>Setelah itu Rasulullah berkata kepada Aisyah, <em>“Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutera seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Jika ini benar dari Allah, niscaya akan terlaksana.</em>” Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Mekah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk di dalamnya Aisyah. Karena cuaca buruk yang melanda Madinah, Aisyah sakit keras dan badannya menyusut seperti juga dialami orang-orang Muhajirin.</p>
<p>Menyaksikan hal itu, Rasulullah berdoa, <em>“Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang yang mencintai Madinah sebagaimana cinta kami kepada Mekah, atau bahkan lebih lagi. Sembuhkanlah penghuninya dan penyakit. Berikanlah keberkahan kepada kami dalam timbangan dan takarannya. Lindungilah kami dan penyakit, dan alihkanlah penyakit itu ke Juhfah.”</em> Allah mengabulkan doa Rasulullah, dan cuaca berangsur membaik, sehingga hilanglah penyakit yang melanda kaum muhajirin. Aisyah pun sembuh dan bersiap-siap menghadapi hari pernikahan dengan Rasuhillah Shallallahu alaihi wassalam.</p>
<p>Dengan izin Allah menikahlah Aisyah dengan maskawin lima ratus dirham. Ketika ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurrahman tentang jumlah mahar yang diberikan Rasulullah:</p>
<p>“Aisyah menjawab, Mahar Rasulullah kepada istri-irstrinya adalah dua belas uqiyah dan satu nasy. Tahukah kamu satu nasy itu? Dijawab, Tidak. Kemudian lanjut Aisyah. Satu nasy itu sama dengan setengah uqiyah, yaitu lima ratus dirham. Maka inilah mahar Rasulullah terhadap istri-istri beliau.“ [HR. Muslim]</p>
<h3>Istri Kecintaan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam</h3>
<p>Aisyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan Masjid Nabawi. Di kamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Di hati Rasulullah, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan itu tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, “Cinta pertama yang terjadi di dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah.”</p>
<p>Di dalam riwayat Tirmidzi dikisahkan, “Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah di hadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar berseru kepadanya, ‘Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri kecintaan Rasulullah’.”</p>
<p>Selain itu ada juga kisah lain yang menunjukkan besarnya cinta Nabi kepada Aisyah, dan itu sudah diketahui oleh kaum muslimin saat itu. Oleh karena itu, kaum muslimin senantiasa menanti-nanti datangnya hari giliran Rasulullah pada Aisyah sebagai hari untuk menghadiahkan sesuatu kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Keadaan seperti itu menimbulkan kecemburuan di kalangan istri Rasulullah lainnya. Tentang hal itu Aisyah pernah berkata :</p>
<p>“Orang-orang berbondong-bondong memberi hadiah pada hari giliran Rasulullah padaku. Karena itu, teman-temanku (istri Nabi yang lainnya) berkumpul di tempat Ummu Salamah. Mereka berkata, ‘Hai Ummu Salamah, demi Allah, orang-orang berbondong-bondong mernberikan hadiah pada hari giliran Rasulullah di rumah Aisyah, sedangkan kita juga ingin rnemperoleh kebaikan sebagaimana yang diinginkan oleh Aisyah.’ Melihat reaksi seperti itu, Rasulullah meminta kaum muslimin untuk memberikan hadiah kepada beliau pada hari giliran istri Rasulullah yang mana saja. Ummu Salamah pun telah menyatakan keberatan kepada Rasulullah. Dia berkata, “Rasulullah berpaling dariku. Ketika beliau mendatangi aku, akupun kembali mernperingatkan hal itu, tetapi beliau berbuat hal yang serupa. Ketika aku rnengingatkan beliau untuk yang ketiga kalinya, beliau tetap berpaling dariku, sehingga akhirnya beliau bersabda, ‘Demi Allah, wahyu tidak turun kepadaku selama aku berada di dekat kalian, kecuali ketika aku dalam satu selimut bersama Aisyah.” [HR. Muslim]</p>
<p>Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah terhadap Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata, ”Demi Allah, dia adalah manusia yang paling beliau cintai setelah ayahnya (Abu Bakar).”</p>
<p>Suatu waktu, Rasulullah ditanya oleh Amru bin ‘Aash, “Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, <em>“Aisyah!”</em> Amru bertanya lagi, “Dan dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, <em>“Ayahnya!”</em> [Hadits muttafaqirn ‘alaihi]</p>
<p>Di antara istri-istri Rasulullah, Saudah binti Zum’ah sangat memahami keutamaan-keutamaan Aisyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk Aisyah.</p>
<p>Suatu hari Shafiyah bin Huyay meminta kerelaan Rasulullah melalui Aisyah, yaitu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Aisyah.</p>
<p>“Suatu ketika Rasulullah enggan mendekati Shafiyah binti Huyay bin Ahthab. Karena itu Shafyyah berkata kepada Aisyah, ‘Hai Aisyah, apakah engkau dapat merelakan Rasulullah kepadaku? Dan engkau akan mendapatkan hari bagianku. ‘Aisyab menjawab, ‘Ya!’ Kernudian Aisyah mengambil kerudung yang ditetesi za’faran dan disiram dengan air agar lebih harum. Setelah itu dia duduk di sebelah Rasulullah, namun beliau bersabda, ‘<em>Ya Aisyah, menjauhlah engkau dariku. Hari ini bukan hari bagianmu.‘</em> Aisyah berkata, ‘Ini adalah keutamaan yang diberikan Allah kepada dia yang dikehendaki-Nya.’ Aisyah kemudian menceritakan duduk permasalahannya dan Rasulullah pun rela kepada Shafyyah.”</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah. Menjelang wafat, Rasulullah meminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat di rumah Aisyah selama sakitnya hingga wafatnya. Dalam hal ini Aisyah berkata, “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku.”</p>
<h3>Fitnah Terhadapnya</h3>
<p>Aisyah pernah mengalami fitnah yang mengotori lembaran sejarah kehidupan sucinya, hingga turun ayat Al-Qur’an yang menerangkan kesucian dirinya. Kisahnya bermula dari sini. Seperti biasanya, sebelum berangkat perang, Rasulullah mengundi istrinya yang akan menyertainya berperang. Ternyata undian jatuh kepada Aisyah, sehingga Aisyah yang menyertai beliau dalam Perang Bani al-Musthaliq. Saat itu bertepatan dengan turunnya perintah memakai hijab. Setelah perang selesai dan kaum muslimin memetik kemenangan, Rasulullah kembali ke Madinah. Ketika tentara Islam tengah beristirahat di sebuah pelataran, Aisyah masih berada di dalam sekedup untanya. Pada malam harinya, Rasulullah mengizinkan rombongan berangkat pulang. Ketika itu Aisyah pergi untuk hajatnya, dan kembali.</p>
<p>Ternyata, kalung di lehernya jatuh dan hilang, sehingga dia keluar dan sekedup dan mencari-cari kalungnya yang hilang. Ketika pasukan siap berangkat, sekedup yang mereka angkat ternyata kosong. Mereka mengira Aisyah berada di dalam sekedup. Setelah kalungnya ditemukan, Aisyah kembali ke pasukan, namun alangkah kagetnya karena tidak ada seorang pun yang dia temukan. Aisyah tidak meninggalkan tempat itu, dan mengira bahwa penuntun unta akan tahu bahwa dirinya tidak berada di dalamnya, sehingga mereka pun akan kembali ke tempat semula. Ketika Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan bin Mu’thil yang terheran-heran melihat Aisyah tidur. Dia pun mempersilakan Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di depannya. Berawal dari kejadian itulah fitnah tersebar, yang disulut oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.</p>
<p>Ketika tuduhan itu sampai ke telinga Nabi, beliau mengumpulkan para sahabat dan meminta pendapat mereka. Usamah bin Zaid berkata, “Ya Rasulullah, dia adalah keluargamu … yang kau ketahui hanyalah kebaikan semata.“ Ali juga berpendapat, “Ya Rasulullah, Allah tidak pernah mempersulit engkau. Banyak wanita selain dia.” Dari perkataan Ali, ada pihak yang memperuncing masalah sehingga terjadilah pertentangan berkelanjutan antara Aisyah dan Ali. Mendengar pendapat-pendapat dari para sahabat Nabi, bentambah sedihlah Aisyah, terlebih setelah dia melihat adanya perubahan sikap pada diri Nabi.</p>
<p>Ketika Aisyah sedang duduk-duduk bersama orang tuanya, Rasulullah menghampirinya dan bersabda:</p>
<p><em>“Wahai Aisyah aku mendengar berita bahwa kau telah begini dan begitu. Jika engkau benar-benar suci, niscaya Allah akan menyucikanmu. Akan tetapi, jika engkau telah berbuat dosa, bertobatlah dengan penuh penyesalan, niscaya Allah akan mengampuni dosamu.”</em> Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau telah mendengar kabar ini, dan ternyata engkau mempercayainya. Seandainya aku katakan bahwa aku tetap suci pun, niscaya hanya Allahlah yang mengetahui kesucianku, dan tentunya engkau tak akan mempercayaiku. Akan tetapi, jika aku mengakui perbuatan itu, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tetap suci, maka kau akan mempercayai perkataanku. Aku hanya dapat mengatakan apa yang dikatakan Nabi Yusuf, ‘Maka bersabar itu lebih baik’. Dan Allah pula yang akan menolong atas apa yang engkau gambarkan.”</p>
<p>Aisyah sangat mengharapkan Allah menurunkan wahyu berkaitan dengan masalahnya, namun wahyu itu tidak kunjung turun. Baru setelah beberapa saat, sebelum seorang pun meninggalkan rumah Rasulullah, wahyu yang menerangkan kesucian Aisyah pun turun kepada beliau. Rasulullah segera menemui Aisyah dan berkata, “Hai Aisyah, Allah telah menyucikanmu dengan firman-Nya :</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”</em> (QS. An-Nuur : 11)</p>
<p>Demikianlah kemulian yang disandang Aisyah, sehingga bertambahlah kemuliaan dan keagungannya di hati Rasulullah.</p>
<h3>Perjalanan Hidup yang Mulia</h3>
<p>Pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kelemahan, begitu juga halnya dengan Aisyah, yang selain memiliki kehormatan dan martabat juga memiliki kekurangan. Dalam hal ini dia pernah berkata,</p>
<p>“Aku tidak pernah melihat pembuat makanan seperti Shafiyyah. Dia selalu menghadiahi makanan kepada Rasulullah. Tanpa sadar aku pernah memecahkan tempat makanan yang dibawa Shafiyyah. Aku bertanya kepada Rasulullah apa yang dapat dijadikan sebagai tempat yang pecah itu. Rasulullah menjawab, ‘Tempat diganti dengan tempat dan makanan diganti dengan makanan.“ [HR. Bukhari]</p>
<p>Aisyah pernah berkata :</p>
<p>“Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, meminta izin kepada Rasulullah. Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. merasa bahwa cara Halah meminta izin sama dengan cara Khadijah meminta izin, dan beliau merasa senang atas semua itu. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, inilah Halah binti Khuwailid.’ Aku berkata, ‘Apa yang engkau sebut itu adalah seorang nenek dari nenek-nenek kaum Quraisy, yang kedua sudut mulutnya merah. Dia telah tua renta ditelan masa.</p>
<p>Semoga Allah memberi untukmu pengganti yang lebih baik daripada dia.‘ Mendengar itu Rasulullah menjawab, ‘Allah tidak akan memberikan pengganti yang lebih baik darpada Khadijah. Dia telah beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Dia telah mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku. Dia telah mendermakan harta bendanya untuk perjuanganku ketika orang lain menolak memberikan harta mereka. Allah telah memberkahiku dengan putra-putri lewat Khadijah ketika yang lain tidak memberiku anak.” [HR. Ahmad dan Muslim]</p>
<p>Terdapat beberapa pendirian yang tegas dan pemecahan problema hukum yang penting, baik khusus yang berkaitan dengan wanita maupun secara umum yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslimin secara umum. Diriwayatkan bahwa pada zaman dahulu seorang laki-laki dapat menceraikan istrinya dengan sekehendak hati. Wanita itu akan kembali menjadi istrinya jika suaminya membujuk kembali dalam keadaan iddah, sekalipun dia telah menceraikannya seratus kali. Bahkan suami itu berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku akan menceraikanmu sehingga engkau menjadi jelas, dan aku tidak akan memberimu nafkah selamanya”.</p>
<p>Istrinya menemui Aisyah dan menceritakan. Dia menjawab, Aku menceraikanmu jika iddahmu hampir berakhir, dan jika engkau telah suci kembali, aku akan merujukmu kembali. Istrinya menemui Aisyah dan menceritakan masalah yang dihadapinya. Aisyah terdiam hingga Rasulullah datang. Beliau pun diam tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut hingga turunlah ayat :</p>
<p><em>“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelab itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma‘ruf atau menceraikannya dengan cara yang baik….”</em> (al-Baqarah : 229)</p>
<p>Dalam penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Suatu ketika dia mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di tempat pemandian umum. Aisyah mendatangi mereka dan berkata,</p>
<p>“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di rumah selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup antara dia dengan Tuhannya.“ [HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah]</p>
<p>Aisyah pun pernah menyaksikan adanya perubahan pada pakaian yang dikenakan wanita-wanita Islam setelah Rasulullah wafat. Aisyah menentang perubahan tersebut seraya berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa kini), niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.”</p>
<p>Di dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui Ummul-Mukminin Aisyah. Ketika itu Hafsyah mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal.</p>
<h3>Hadist yang Diriwayatkan Aisyah</h3>
<p>Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah. Abu Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah.” Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Aisyah pun sering mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya. Salah satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah.</p>
<p>Ketika itu Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh Fadhi ibnu Abbas bahwa barang siapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa. Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Aisyah, Aisyah menjawab, “Rasulullah pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya.” Setelah mengetahui hal itu, Abu Hurairah berkata, “Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits tersebut.” Kamar Aisyah lebih banyak berfungsi scbagai sekolah, yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru untuk menuntut ilmu. Bagi murid yang bukan mahramnya, Aisyah senantiasa membentangkan kain hijab di antara mereka. Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah.</p>
<p>Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau, sebagaimana perkataannya ini :</p>
<p>“Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ [HR. Bukhari]</p>
<p>Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dia memperoleh ilmu langsung dan Rasulullah sebagaimana ungkapannya ini :</p>
<p>“Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut….’ (QS. Al-Mu’minun: 60). Apakah yang dimaksud dengan ayat di atas adalah para peminum khamar dan pencuri?” Beliau menjawab, <em>‘Bukan, putri ash-Shiddiq! Mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut (amal mereka tidak diterima). Mereka menyegerakan diri dalam kebaikan, tetapi mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut.</em>.” [HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi].</p>
<p>Aisyah berkata lagi: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah: ‘Yauma tabdalul-ardhu ghairal-ardha was-samawati. Di manakah manusia berada, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, <em>“Manusia berada di atas shirath.“</em> [HR. Muslim]</p>
<p>Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wassalam, sehingga para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas. Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun, yaitu meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dan Rasulullah dan menghafalkannya di rumah. Karena itu, sering dia meriwayatkan hadits yang tidak pernah diriwayatkan oleh perawi hadits lain. Para sahabat penghafal hadits sering mengunjungi rurnah Aisyah untuk langsung memperoleh hadits Rasulullah karena kualitas kebenarannya sangat terjamin. Jika berselisih pendapat tentang suatu masalah, tidak segan-segan mereka meminta penyelesaian dari Aisyah. Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, anak saudara laki-laki Aisyah, mengatakan bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Aisyah rnenjadi penasihat pemerintah hingga wafat.</p>
<p>Aisyah dikenal sebagai perawi hadits yang mengistinbath hukum sendiri ketika kejelasan hukumnya tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadits lain. Dalam hal ini, Abu Salamah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih mengetahui Sunnah Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih mengetahui bagaimana Al-Qur’an turun, serta lebih mengenal kewajibannya selain Aisyah.”</p>
<p>Suatu ketika Saad bin Hisyam menemui Aisyah, dan berkata, “Aku ingin bertanya tentang bagaimana pendapatmu jika aku tetap membujang selamanya.” Aisyah menjawab, “Janganlah kau lakukan hal itu, karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda tentang firman Allah: ‘Telah kami utus rasul-rasul sebelummu, dan Kami telah ciptakan bagi mereka istri-istri dan keturunan.’ Oleh karena itu, janganlah kamu membujang.” Urwah bin Zubeir, salah seorang murid Aisyah, sangat mengagumi keluarbiasaan penguasaan ilmu Aisyah. Dia berkata, “Aku berpikir tentang urusanmu. Sungguh aku mengagumimu. Menurutku engkau adalah manusia yang paling banyak mengetahui sesuatu.”</p>
<p>Aisyah berkata, “Apa yang menyebabkanmu berpendapat seperti itu?” Dia menjawab, “Engkau adalah istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan putri Abu Bakar. Engkau mengetahui hari-hari, nasab, dan syair orang-orang Arab.” Dia berkata lagi, “Apa yang menyebabkan engkau dan ayahmu menjadi orang yang paling pandai dari pada seluruh orang Quraisy? Aku sangat mengagumi kepandaianmu tentang ilmu medis. Dari manakah engkau mendapatkan ilmu itu?” Aisyah menjawab, “Wahai Urwah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sering sakit, sehingga dokter-dokter Arab dan bukan Arab datang mengobati beliau. Dari merekalah aku belajar.”</p>
<p>Tentang penguasaan bahasa dan sastranya, kembali Urwah berkomentar, “Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih fasih daripada Aisyah selain Rasulullah sendiri.” Al-Ahnaf bin Qais berkata, “Aku telah mendengar khutbah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Alii bin Abi Thalib. Hingga saat ini aku belum pernah mendengar satu perkataan pun dari makhluk Tuhan yang lebih berisi dan baik daripada perkataan Aisyah.” Salah satu contoh kefasihannya dapat kita lihat dari kata-katanya pada kuburan ayahnya, Abu Bakar :</p>
<p>“Allah telah mengilaukan wajahmu, dan bersyukur atas kebaikan yang telah engkau perbuat. Engkau merendahkan dunia karena engkau berpaling darinya. Akan tetapi, untuk engkau adalah mulia, karena engkau selalu menghadap untuknya. Kalau peristiwa terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah kematianmu, Kitab Allah rnenghibur dengan kesabaran dan menggantikan yang baik selainmu. Aku merasakan janji Allah yang telah ditetapkan bagirnu dan ikhlas atas kepergianmu. Dengan memohon dari-Nya gantimu dan aku berdoa untukmu. Kami hanyalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Bagimu salam sejahtera dan rahmat Allah.”</p>
<p>Dari Aisyah pun sering keluar kata-kata hikmah yang terkenal, seperti :</p>
<p>“Bagi Allah mutiara takwa. Takkan ada kesembuhan bagi orang yang di dalarn hatinya terbersit kemarahan. Pernikahan adalah perbudakan, maka seseorang hendaklah melihat kepada siapa dia mengabdikan putri kemuliaannya.”</p>
<h3>Rasulullah Wafat dan Dikuburkan di Kamarnya</h3>
<p>Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah selama sakit di kamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat. Di bawah ini dia melukiskan detik-detik terakhir beliau menjelang wafat :</p>
<p>“Sungguh merupakan nikmat Allah bagiku, Rasulullah wafat di rumahku pada hariku dan dalam dekapanku. Allah telah menyatukan ludahku dan ludah beliau menjelang wafat. Abdurrahman menemuiku, di tangannya tergenggam siwak, sementara aku menyandarkan beliau. Aku melihat beliau menoleh ke arah Abdurrahman, aku segera memahami bahwa beliau menyukai siwak. Aku berbisik kepada beliau, ‘Bolehkah aku haluskan siwak untukmu?’ beliau memberi isyarat dengan kepala, sepertinya mengisyaratkan ‘ya’. Kemudian beliau menyuruhku menghentikan menghaluskan siwak, sernentara di tangan beliau ada bejana berisi air. Beliau memasukkan kedua belah tangan dan mengusapkannya ke wajah seraya berkata, ‘Laa ilaaha illahu… setiap kematian mengalami sekarat (beliau mengangkat tangannya)… pada Allah Yang Maha Tinggi. ‘Beliau menggenggam tangan dan perlahan-lahan tangan beliau jatuh ke bawah.“ [HR. Muttafaq Alaih]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dikuburkan di kamar Aisyah, tepat di tempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka di rumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia di muka bumi.” Ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang paling mulia di antara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur di rumah Aisyah.</p>
<h3>Setelah Rasulullah Wafat</h3>
<p>Setelah Rasulullah wafat, Aisyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap takdir Allah, dan selalu berdiam diri di dalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :</p>
<p>“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul-bait, dan membersihkan kamu sebersih- bersihnya.” (QS. Al-Ahzab:33)</p>
<p>Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah ke makam Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Ketika istri-istri Nabi hendak mengutus Utsman menghadap Khalifàh Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, “Bukankah Rasulullah telah berkata, ‘Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”</p>
<p>Semasa kekhalifahan Abu Bakar, kadar keilmuan Aisyah tidak begitu tampak di kalangan kaum muslimin, karena dengan jarak waktu wafatnya Rasulullah sangat dekat, juga karena kaum muslimin sedang disibukkan oleh perang Riddah (perang melawan kaum murtad). Setelah dua tahun tiga bulan dan sepuluh malam, khalifah pertama, Abu Bakar, meninggal dunia. Sebelum meninggal, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya agar menguburkannya di sisi Rasulullah. Aisyah melaksanakan perintah ayahnya, dan ketika Abu Bakar rneninggal, Aisyah menguburkan jenazahnya di sisi Nabi, kepalanya diletakkan pada sisi pundak Nabi.</p>
<p>Ilmu Aisyah mulai tampak pada masa kekhalifahan Umar, sehingga para sahabat besar senantiasa merujuk pendapat Aisyah jika mereka dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang berkenaan dengan kaum muslimin. Di dalam Thabaqat, dari Mahmud bin Luhaid, lbnu Saad berkata, “Para istri Nabi banyak rnenghafal hadits Nabi, namun hafalan Aisyah dan Ummu Salamah tidak ada yang dapat menandingi. Aisyah adalah penasihat kekhalifahan Umar dan Utsman hingga dia meninggal. Pada waktu itu, Umar sangat memperhatikan keadaan istri-istri Nabi. Tentang hal itu Aisyah berkata, ‘Umar bin Khaththab selalu memperhatikan keadaan kami dari ujung kepala sampai ujung kaki.</p>
<p>Dia memiliki tempat kurma besar yang selalu diisi buah-buahan dan kemudian dikirimkan kepada istri-istrii Nabi Shallallahu alaihi wassalam.’ Begitu juga dengan Utsman bin Affan. Aisyah sangat menghormati Utsman karena kedudukannya sangat terhormat di hati Rasulullah. Utsman bin Affan memiliki kedermawanan dan rasa malu yang besar, sehingga Aisyah pernah berkata, ‘Nabi Shallallahu alaihi wassalam sangat malu jika bertemu dengan Utsman. Jika Nabi bertemu dengannya, beliau akan duduk di sampingnya dan merapikan bajunya.’ Ketika Aisyah menanyakan hal itu, beliau menjawab, ‘Aku merasa malu kepada seseorang yang kepadanya malaikat sangat malu.”</p>
<p>Di dalam hadits Nabi, Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah berwasiat kepada Utsman agar jangan turun dari kekhalifahan jika belum terlaksana dengan sempurna. Beliau bersabda, “Wahai Utsman, sesungguhnya pada suatu hari nanti Allah akan mengangkatmu dalam urusan ini. Jika orang-orang munafik menginginkan agar engkau meninggalkan baju kebesaran yang Allah pakaikan kepadamu, janganlah engkau melepaskannya.” Beliau mengulang perkataan tersebut tiga kali. Ketika Utsman meninggal di tangan pemberontak, Aisyahlah yang pertama menuntut balas atas kematiannya.</p>
<p>Berkaitan dengan masalah permusuhan Aisyah dan Ali, terdapat hadits dari Aisyah sendiri yang menetralkan isu tersebut. Aisyah dan Ali memiliki kedudukan yang mulia dan terhormat, dan tentunya Aisyah tidak akan melupakan bahwa Ali adalah anak paman Rasulullah sekaligus sebagai suami dari putri Rasulullah. Aisyah pun tentu tidak akan melupakan kegigihan Ali dalam berjihad di jalan Allah dan menjadi orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak. Isu pertentangan Ali dan Aisyah tentu saja tidak beralasan karena Aisyah sangat meyakini kualitas ilmu dan sifat amanah Ali. Ketika Suraih bin Hani menanyakan kepada Aisyah tentang mengusap khuffain (penutup kepala) ketika berwudhu, maka Aisyah menjawab, “Datanglah kepada Ali, karena dia selalu bepergian (safar) bersama Rasulullah.”</p>
<p>Setelah Ali wafat, Aisyah senantiasa berada di rumah dan memberikan pelajaran hadits dan tafsir ayat Al-Qur’an. Aisyah tidak pernah rela membiarkan sepak terjang Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang banyak bertentangan dengan syariat Islam walaupun Mu’awiyah senantiasa berusaha menarik simpatik dan kerelaan Aisyah. Suatu saat, Mu’awiyah mengutus seseorang untuk meminta fatwa kepada Aisyah yang isinya, “Tuliskan untukku, dan jangan terlalu banyak!” Aisyah menjawab, “Salam sejahtera buatmu. Aku mendengar Rasululiah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda, ‘Barang siapa yang mencari keridhaan Allah sementara manusia marah, niscaya Allah cukupkan baginya pemaafan manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, niscaya Allah wakilkan masalah tersebut kepada manusia. Salam sejahtera untukmu.”</p>
<h3>Wafatnya Aisyah</h3>
<p>Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 hijriah, dan dikuburkan di Baqi’. Kehidupan Aisyah penuh kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah, selalu beribadah, serta senantiasa melaksanakan shalat malam. Bahkan dia sering memberikan anjuran untuk shalat malam kepada kaum muslimin. Dari Abdullah bin Qais, Imam Ahmad menceritakan, “Aisyah berkata, ‘Janganlah engkau tinggalkan shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang malas, beliau melakukannya sambil duduk.”</p>
<p>Aisyah memiliki kebiasaan untuk memperpanjang shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Abdullah bin Abu Musa, “Mudrik atau Ibnu Mudrik mengutusku kepada Aisyah untuk menanyakan segala urusan. Aku tiba ketika dia sedang shalat dhuha, lalu aku duduk sampai dia selesai melaksanakan shalat. Mereka berkata, ‘Sabar-sabarlah kau menunggunya.” Aisyah pun senantiasa memperbanyak doa, sangat takut kepada Allah, dan banyak berpuasa sekalipun cuaca sedang sangat panas. Di dalam Musnad-nya, Ahmad berkata, “Abdurrahman bin Abu Bakar menemui Aisyah pada hari Arafah yang ketika itu sedang berpuasa sehingga air yang dia bawa disiramkan kepada Aisyah. Abdurrahman berkata, ‘Berbukalah.’ Aisyah menjawab, ‘Bagaimana aku akan berbuka sementara aku mendengar Rasulullah telah bersabda, ‘Sesungguhnya puasa pada hari Arafah akan menebus dosa-dosa tahun sebelumnya.”</p>
<p>Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga di dalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda, “Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.”</p>
<p>Di dalam riwayat lain dikatakan, “Aku didatangi oleh seorang ibu yang membawa dua orang putrinya. Dia meminta sesuatu dariku sedangkan aku tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada mereka selain satu biji kurma. Aku memberikan kurma itu kepadanya, dan ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Dia berdiri kemudian pergi. Setelah itu Rasulullab masuk dan bersabda, ‘Barang siapa mengasuh anak-anak itu dan berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan rnenjadi penghalang baginya dari api neraka.“ [HR. Muttafaq Alaihi]</p>
<p>Ada juga riwayat lain yang membuktikan kedermawanan Aisyah. Urwah berkata, “Mu’awiyah memberikan uang sebanyak seratus ribu dirham kepada Aisyah. Demi Allah, sebelum matahari terbenam, Aisyah sudah membagi-bagikan sernuanya. Budaknya berkata, ‘Seandainya engkau belikan daging untuk kami dengan uang satu dirham.’ Aisyah menjawab, ‘Seandainya engkau katakan hal itu sebelum aku membagikan seluruh uang itu, niscaya akan aku lakukan hal itu untukmu.”</p>
<p>Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Aisyah dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.</p>
<p>- shalihah.com -</p>
<h4>Sumber : Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh, diketik ulang oleh Abu Sufyan Ats Tsauri.</h4>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/356/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=356&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/aisyah-binti-abu-bakar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/kembang101.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kembang101</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Hanya &#8220;Jazaakallah&#8221; (جَزَاكَ الله) Saja?</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/kenapa-hanya-jazaakallah-%d8%ac%d9%8e%d8%b2%d9%8e%d8%a7%d9%83%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-saja-2/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/kenapa-hanya-jazaakallah-%d8%ac%d9%8e%d8%b2%d9%8e%d8%a7%d9%83%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-saja-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang memilih bahasa Arab sebagai bahasa kitabnya yang mulia yaitu al-Qur’an dan menjadikannya sebagai bahasa persatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Dan Allah telah menjadikan orang-orang yang mengetahui bahasa Arab sebagai orang mengetahui banyak hal tentang ilmu syar’i karena sumber ilmu syar’i adalah bahasa Arab dan definisi istilah-istilah dalam disiplin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=349&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/jazakallah2.gif"><img class="aligncenter size-medium wp-image-351" title="jazakallah" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/jazakallah2.gif?w=300&#038;h=218" alt="" width="300" height="218" /></a>Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang memilih bahasa Arab sebagai bahasa kitabnya yang mulia yaitu al-Qur’an dan menjadikannya sebagai bahasa persatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Dan Allah telah menjadikan orang-orang yang mengetahui bahasa Arab sebagai orang mengetahui banyak hal tentang ilmu syar’i karena sumber ilmu syar’i adalah bahasa Arab dan definisi istilah-istilah dalam disiplin ilmu syar’i tersebut banyak dijabarkan dalam bahasa tersebut.</p>
<p>Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i yang tetap mempelajari bahasa Arab selama 20 tahun padahal beliau adalah ulama fiqih yang merupakan keturunan Arab asli yaitu dari kabilah Quraisy. Beliau pun berkata,</p>
<blockquote><p><em>“Tidaklah kuinginkan dalam mempelajari (bahasa Arab) ini kecuali agar memudahkan dalam mempelajari fiqh.”<strong>[1]</strong></em></p></blockquote>
<p>Beliau pula berkata ketika menerangkan keutamaan orang-orang yang mempelajari bahasa Arab,</p>
<blockquote><p><em>“Para ahli bahasa Arab adalah jinnya manusia karena mereka mampu mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.”<strong>[2]</strong></em></p></blockquote>
<p><strong>***</strong></p>
<p>Diantara hal yang menandakan bahwa kaum muslimin di tanah air bersemangat dalam hal pemenuhan kebutuhan berbahasa Arab adalah banyak dan semaraknya penggunaan istilah-istilah berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-sehari.</p>
<p>Tak hanya itu, do’a dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerapkali diucapkan, terutama do’a ketika mendapat kebaikan dari orang lain yaitu <strong><em>“Jazaakallahu khairan”</em></strong> (جَزَاكَ الله خَيْرًا) yang bermakna <strong>“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”</strong>.</p>
<p>Mereka berusaha melaksanakan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bincangkan dalam sebuah hadits,</p>
<blockquote><p>من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ</p>
<p>&#8220;Siapa-siapa yang <strong>diberikan kebaikan </strong>lalu dia berucap &#8216;<strong>Jazaakallahu khairan</strong>&#8216; kepada si pemberi maka sungguh itu telah cukup sebagai pujian (dan terima kasih).&#8221;[3]</p></blockquote>
<p>Hanya saja, pada tema ini, tak sedikit kaum mislimin yang mengucapkan <strong><em>“jazaakallah”</em></strong> (جَزَاكَ الله) saja, bukan dengan lengkap <strong><em>“jazaakallahu khairan”</em></strong> (جَزَاكَ الله خَيْرًا).</p>
<p>Dan ini, menurut kami, merupakan sebuah kekeliruan. Ada beberapa argumen yang kami bawakan dalam mengklaim bahwa itu sebuah kekeliruan.</p>
<p><strong>Argumen Pertama</strong></p>
<p>Kata kerja <strong>“jazaa”</strong> (جَزَا) yang bermakna “membalas”, dalam kaidah bahasa Arab termasuk dalam <strong><em>Fi’il Muta’addi</em></strong> (الفعل المتعدى).</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan <strong><em>Fi’il Muta’addi</em></strong> (الفعل المتعدى)?<em> </em></p>
<p>Dalam kitab <em>Tash-hil fie Ma’rifati Qawa’idi Lughatil at-Tanziil</em> sebutkan bahwa:</p>
<blockquote><p>الفعل المتعدى هو ما يحتاج إلى مفعول</p>
<p><strong><em>“Fi’il Muta’addi</em></strong> (الفعل المتعدى) adalah fi’il (kata kerja) yang membutuhkan maf’ul (objek).”[4]</p></blockquote>
<p>Dalam literatur lain yaitu kitab <em>Mulakhkhash Qawa’idi al-Lughati al-‘Arabiyati</em> disebutkan lebih lengkap tentang definisi ini:</p>
<blockquote><p>الفعل المتعدى هو الذي لا يكتفي بفاعله ويحتج إلى مفعول به واحد أو أكثر</p>
<p><strong><em>“Fi’il Muta’addi</em></strong> (الفعل المتعدى) adalah fi’il (kata kerja) yang tak cukup (disebutkan) dengan fa’il (subyek) saja dan fi’il ini membutuhkan sebuah maf’ul bihi (obyek) atau lebih.”[5]<strong> </strong></p></blockquote>
<p>Begitu jelas bahwa jenis kata kerja ini, <strong><em>Fi’il Muta’addi</em></strong> (الفعل المتعدى), tak cukup disebutkan hanya dengan subyek saja namun juga membutuhkan obyek satu atau lebih.</p>
<ul>
<li>Contoh kata kerja yang merupakan <strong><em>Fi’il Muta’addi </em></strong>: <strong><em>Fahima”</em></strong> (<em>فهم</em>) = Memahami.</li>
<li>Contoh kalimat: <strong><em>“Fahima at-talaamiidzu</em></strong>” (فهم التلاميذ) = Siswa memahami.</li>
</ul>
<p>Memahami apa?</p>
<p>Apa yang dipahami siswa?</p>
<p>Cukupkah dua kata “siswa memahami” dikatakan sebagai kalimat? Dalam bahasa Indonesia pun ini belum cukup. Begitu pula dalam bahasa Arab yang memiliki keteraturan kaidah yang kompleks.</p>
<p>Dalam hal ini dibutuhkanlah maf’ul bihi (obyek) biar perkaranya jelas. Misalkan yang dipahami siswa adalah <strong><em>“ad-darsa</em></strong>” (الدرس)= Pelajaran, maka struktur kalimatnya akan menjadi:</p>
<p><strong><em>“Fahima at-talaamiidzu ad-darsa</em></strong><em>”</em> (فهم التلاميذ الدرس)= <strong><em>“Para siswa memahami pelajaran”</em></strong></p>
<p>Kata <em>“<strong>ad-darsa”</strong></em>/pelajaran (الدرس) inilah yang dimaksud dengan maf’ul bihi (obyek) yang harus tertera pada konteks fi’il/kata kerja jenis ini.</p>
<p>Kembali ke obrolan, kata <strong><em>“jazaa”</em></strong> (جَزَا) yang bermakna <strong>“membalas”</strong>, sebagai <strong><em>Fi’il Muta’addi</em></strong> (الفعل المتعدى) tentu saja/harus membutuhkan objek agar lebih jelas.</p>
<p>Artinya, ketika disebutkan <strong><em>“jazaakallah”</em></strong> (جَزَاكَ الله) saja yang bermakna “<strong>semoga Allah membalasmu”</strong> maka <strong>tidak adanya maf’ul bihi dan ini tentu tidak benar.</strong></p>
<p>Membalas dengan apa?</p>
<p>Dengan apa dibalas?</p>
<p>Inilah kerancuannya. Masih bersifat umum. Bisa membalas dengan kebaikan atau keburukan atau yang lain.</p>
<p>Sesuai dengan konteks hadits di atas maka <strong><em>“khairan</em></strong>” (خيرا)= kebaikan adalah maf’ul bihi (obyek) dan maf’ul bihi ini<strong> harus tertera dan tersebutkan oleh lisan kita</strong> ketika menyebutnya<em>.</em> Ini yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin.</p>
<p><strong><em>Jazaakallahu khairan (</em></strong><strong>جزاك</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>خيرا</strong><strong><em>) </em></strong></p>
<p><strong>Argumen Kedua.</strong></p>
<p>Ucapan <strong><em>“jazaakallahu khairan”</em></strong> (جَزَاكَ الله خَيْرًا) yang tertera dalam hadits di atas merupakan do’a dan dzikir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan sehingga pengamalan dan kelengkapan/kesempurnaan lafadznya lebih utama dititikberatkan.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:</p>
<blockquote><p>“Do’a dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk do’a dan dzikir paling utama yang seharusnya diamalkan setiap muslim.[6]</p></blockquote>
<p>Tak hanya itu, pengamalan dan penerapan kelengkapan/kesempurnaan lafadz ini menandakan kualitas <em>ittiba’</em>(peneladanan/pengikutian jejak) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu bertutur:</p>
<blockquote><p>“Tidak diragukan lagi, do’a dan dzikir adalah termasuk ibadah yang sangat utama. <strong>Ibadah itu harus didasari dengan </strong><em><strong>ittiba’</strong></em><strong> Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan konsekuen dan konsisten,</strong> bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula mengada-ada, membuat sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya.”[7]</p></blockquote>
<p>Ketika pengamalan dan kesempurnaan lafadz do’a dan dzikir, termasuk terkomposisikan dengan niat yang ikhlas, telah terkumpul pada seorang individu maka hasil yang diperoleh juga akan maksimal atau mendekati kesempurnaan.</p>
<p>Kembali kami kutip ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu:</p>
<blockquote><p>“Orang yang melaksanakan do’a dan dzikir yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan merasa aman dan selamat dan <strong>akan mendapatkan manfaat serta hasil yang optimal.”[8]</strong></p></blockquote>
<p>Ketika hanya mengucapkan <strong><em>“jazaakallah”</em></strong> (جَزَاكَ الله)= “semoga Allah membalasmu” saja, bahkan ada yang menulis <strong>“jzkllh”</strong>dan <strong>“jzk”</strong>, bukan dengan lengkap <strong><em>“jazaakallahu khairan”</em></strong> (جَزَاكَ الله خَيْرًا), maka adakah kesempurnaaun <em>ittiba’</em>nya? Adakah apik dan indahnya kesempurnaan lafadznya? Adakah kesempurnaan nilai kebaikan yang diperoleh dalam mengikuti sunnah seperti yang ditawarkan hadits di atas?</p>
<p>Tiga buah ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang kami kutip di atas telah menjawab tiga pertanyaan tersebut.</p>
<p>***</p>
<p>Alhasil, ucapkanlah dengan lengkap <strong><em>“jazaakallahu khairan”</em></strong> (جَزَاكَ الله خَيْرًا) agar sesuai dengan kaidah berbahasa, kesempurnaan <em>ittiba’</em> baik dalam pengamalan dan kesempurnaan lafadznya dan kesempurnaan kebaikan yang akan diperoleh.</p>
<p>Demikian yang kami sampaikan dengan sangat sederhana. Kepada anda sekalian, kami kabarkan bahwa kami menyampaikan ini bukan dalam rangka memposisikan diri sebagai orang yang ahli lagi fasih dalam berbahasa Arab namun dalam rangka membagi-bagi secuil pengetahuan yang kami miliki dan kami pun sedang <strong>“tertatih-tatih belajar merangkak untuk bersiap-siap lari sekencang-kencangnya dalam menempuh jarak yang amat jauh.”<em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Jazaakallahu khairan (</em></strong><strong>جزاك</strong><strong> </strong><strong>الله</strong><strong> </strong><strong>خيرا</strong>)</p>
<p>***</p>
<p>وفي الختام أرجو أن أكون قد وفقت في هذه الرسالة. وأعوذ بالله من الخطأ والزلل. وأسأله قبول الصالح من العمل. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العلمين. والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين</p>
<p>.</p>
<p><strong>سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك</strong></p>
<p><strong>Penyusun:</strong> Abdullah Akiera Van As-samawiey</p>
<p><strong>Editor:</strong> Johan Saputra Halim</p>
<p>Selesai disusun menjelang adzan dzuhur 23 Ramadhan 1432 H.</p>
<p>Ruang Bidang Dakwah Lantai 2 Masjid Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha, Mataram Islamic Centre.</p>
<blockquote><p><strong>End Notes:</strong></p>
<p>[1] <em>Manaaqib as-Syafi’i, </em>karya Baihaqi II/42.</p>
<p>[2] <em>Ibid, </em>hal 53<em>. </em>Dikutip dari majalah <em>Ads-Dzakhirah Al-Islamiyyah </em>Edisi 68 vol. 9 No. 02, 1432 H/2011 M, hal. 38.</p>
<p>[3] HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-Kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah (4/1321), Ibnu Hibban (3413), Al-Bazzar dalam musnadnya (7/54). Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi</p>
<p>[4] Lihat kitab <em>Tash-hil fie Ma’rifati Qawa’idi Lughati at-Tanziil </em>hal. 23 oleh Ari Wahyudi</p>
<p>[5] Lihat kitab <em>Mulakhkhash Qawa’idi al-Lughati al-‘Arabiyati</em> hal. 87 oleh Fuad Ni’mah</p>
<p>[6] Majmuu’ Fatawa XXII/510-511. Dikutip dari buku Do’a dan Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah. Pustaka imam as-syafi’I, cet ke-9, 2008.</p>
<p>[7] <em>Ibid.</em></p>
<p>[8] <em>Ibid.</em></p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/349/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/349/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/349/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=349&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/11/18/kenapa-hanya-jazaakallah-%d8%ac%d9%8e%d8%b2%d9%8e%d8%a7%d9%83%d9%8e-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-saja-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/11/jazakallah2.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jazakallah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Manhaj Salaf</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/10/30/mengenal-manhaj-salaf/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/10/30/mengenal-manhaj-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 12:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Apakah pengertian manhaj  salaf? Siapakah mereka parasalaf yang dimaksud? Kemudian adakah kewajiban untuk mengikuti manhaj salaf? Marilah kita simak penjelasan berikut yang disarikan dari sebuah buku yang sangat bermanfaat karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah, semoga semakin memperjelas bagi kita tentang manhaj salaf sesuai pemahaman yang sebenarnya. 1. Apakah definisi dari manhaj? Manhaj [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=337&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/10/salafi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-339" title="salafi" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/10/salafi.jpg?w=477" alt=""   /></a></p>
<p>Apakah pengertian manhaj  salaf? Siapakah mereka parasalaf yang dimaksud? Kemudian adakah kewajiban untuk mengikuti manhaj salaf? Marilah kita simak penjelasan berikut yang disarikan dari sebuah buku yang sangat bermanfaat karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas <em>hafidzahullah</em>, semoga semakin memperjelas bagi kita tentang manhaj salaf sesuai pemahaman yang sebenarnya.</p>
<p><strong>1. Apakah definisi dari manhaj?</strong></p>
<p>Manhaj dalam bahasa artinya jalan yang jelas dan terang. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman, yang artinya,</p>
<p><em>”Untuk tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang…”</em> (Al Maidah: 48)</p>
<p>Sedang menurut istilah, Manhaj ialah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran-pelajaran ilmiyyah, seperi kaidah-kaidah bahasa arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir dimana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>2. Apakah definisi salaf ?</strong></p>
<p>Salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafun, artinya telah lalu. Kata salaf juga bermakna: seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Karena itu generasi pertama dari umat ini dari kalangan para tabi’in disebut sebagai as-salafush-shalih.</p>
<p>Sedangkan definisi salaf menurut istilah, salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan untuk para sahabat. Ketika yang disebutkan salaf maka yang dimaksud pertama kali adalah para sahabat. Adapun selain mereka itu ikut serta dalam makna salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para sahabat maka disebut salafiyyin, yaitu orang-orang yang mengikuti salafush shalih.</p>
<p><strong>3. Siapakah salaf yang dimaksud?</strong></p>
<p>Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> berfirman, yang artinya :</p>
<p><em> ”Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di</em><em>bawahnya, mereka kekal di</em><em>dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”</em> (At- Taubah: 100)</p>
<p>Sedangkan dalam sebuah hadis juga dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan salaf pertama kali adalah sahabat. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, Sebaik-baik manusia adalah pada masa ku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in). Demikian juga yang dikatakan oleh para ulama bahwasannya yang dimaksud dengan salaf adalah para sahabat.</p>
<p>Akan tetapi pembatasan secara waktu tidaklah mutlak tepat karena kita mengetahui bahwa beberapa sekte bid&#8217;ah dan sesat sudah muncul pada masa-masa tersebut. Karena itulah keberadaan mereka pada masa-masa itu (tiga kurun yang dimuliakan) tidaklah cukup untuk menghukumi bahwa dirinya berada diatas Manhaj Salaf, selama dirinya tidak mengikuti sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> dalam memahami Al Quran dan Assunnah. Karena itulah ulama memberi batasan As-Salaf Ash-Shalih (pendahulu yang shalih).</p>
<p>Imam al Auza’i <em>rahimahullah</em> (wafat th.157 H) seorang Imam Ahlu Sunnah dari Syam berkata, “Bersabarlah dirimu diatas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para sahabat tegak diatasnya. Katakanlah sebagai mana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan salafush shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.”</p>
<p>Berdasarkan keterangan diatas, menjadi jelaslah bahwa kata salaf muthlak ditujukan untuk para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga Allah <em>Ta’ala</em> meridhai mereka semua. Maka barang siapa yang mengikuti mereka semua dalam agama yang haq ini, maka ia adalah generasi penerus dari sebaik-baik pendahulu yang mulia.</p>
<p><strong>4. Adakah dalil yang menunjukkan kewajiban untuk mengikuti mereka?</strong></p>
<p>Terdapat banyak dalil yang dikemukakan oleh al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam bukunya <em>Mulia dengan Manhaj Salaf, </em>namun dalam tulisan yang singkat ini kami hanya mengambil beberapa dalil yang mewakili dan dapat digunakan sebagai hujjah.</p>
<p>Dalil-dalil dari Al Quranul Karim dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa Manhaj Salaf adalah hujjah yang wajib diikuti oleh kaum muslimin:</p>
<ul>
<li>Firman Allah <em>Ta’ala</em>, yang artinya,<em>”Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu menyuruh) berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…”</em> (Ali ‘Imran : 10 )Syaikhul Islam IbnuTaimiyah <em>rahimahullah</em> dalam kitabnya <em>Naqdul Mantiq </em>menjelaskan: kaum muslimin telah sepakat bahwa umat ini adalah sebaik-baik umat dan paling sempurna, dan umat yang paling sempurna dan utama adalah generasi yang terdahulu yaitu generasi para Sahabat.</li>
<li>Firman Allah <em>Jalla Jalaaluhu</em>, yang artinya,<em> ”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan-jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang Telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(An Nisaa: 115 )Imam Ibnu Abi Jamrah <em>rahimahullah</em> mengatakan, ”Para ulama telah berkata mengenai makna dalam firman Allah, <em>”Dan mengikuti jalan yang bukan jalan-jalan orang yang beriman” </em>yang dimaksud adalah (jalan) para Sahabat generasi pertama.</li>
<li>Diriwayatkan dari Sahabat al- ‘Irbadh bin sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,”Suatu hari Rasulullah <em>shalallah ‘alaihi wasallam</em> pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Maka Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,<em>‘Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang hidup diantara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”</em> HR Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no.4607), at-Tirmidzi (no.2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam <em>Syarhus Sunnah </em>(I/205), al Hakim (I/95)Sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> diatas terdapat perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin sepeninggal beliau.</li>
</ul>
<p>Disarikan dari buku <em>Mulia Dengan Manhaj Salaf</em> karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawaz oleh Ummu Maryam Ismiyanti<br />
Murojaah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>***</p>
<p>Artikel <a href="http://muslimah.or.id/aqidah/mengenal-manhaj-salaf.html">muslimah.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=337&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/10/30/mengenal-manhaj-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/10/salafi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">salafi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ukhti Muslimah, Ketahuilah Hakekat Kesyirikan!</title>
		<link>http://annisagroup.wordpress.com/2011/10/30/ukhti-muslimah-ketahuilah-hakekat-kesyirikan/</link>
		<comments>http://annisagroup.wordpress.com/2011/10/30/ukhti-muslimah-ketahuilah-hakekat-kesyirikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 11:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catatan group An-Nisa'</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisagroup.wordpress.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummul Hasan Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاء فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31) Saudariku muslimah, demikianlah Allah menegaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=329&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/10/71.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-330" title="7" src="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/10/71.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Penulis: Ummul Hasan<br />
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاء فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ</p>
<p><em>“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”</em> (QS. Al-Hajj: 31)</p>
<p>Saudariku muslimah, demikianlah Allah menegaskan nasib seseorang yang berbuat syirik terhadap Allah. Betapa meruginya dia, ketika telah jatuh dari langit dia kemudian disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Betapa meruginya dia. Apakah hikmah di balik perumpamaan yang telah Allah sampaikan tersebut?</p>
<p><strong>Kesyirikan di Zaman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> Hingga Zaman Sekarang</strong></p>
<p>Syirik adalah mempersekutukan Allah dalam penyembahan terhadap-Nya. Syirik merupakan lawan dari tauhid (mengesakan Allah dalam penyembahan terhadap-Nya), sedangkan tauhid adalah inti ajaran setiap Rasul yang diutus oleh Allah. Maka tauhid yang sempurna haruslah terbebas dari noda kesyirikan. Akar kesyirikan adalah kebodohan manusia terhadap Allah. Manusia tidak mengenal Allah dengan baik, sehingga tidak pula mengenal tata cara beribadah yang benar kepada Allah.</p>
<p>Adakalanya manusia sadar bahwa dirinya telah berbuat syirik kepada Allah namun karena kesombongannya untuk menerima kebenaran maka dia tetap teguh di atas kesyirikannya, sebagaimana yang terjadi pada kaum musyrikin di zaman Rasulullah. Mereka enggan mengucapkan syahadat <em>Laa ilaaha illallah</em>, karena mereka benar-benar paham bahwa maksud syahadat tersebut adalah tidak bolehnya menyembah sesuatu selain Allah, baik itu memberi sesajen, memohon do’a kepada orang-orang yang dianggap sholih, dan berbagai bentuk peribadatan yang lain. Mereka hanyalah sombong untuk menerima kebenaran ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ</p>
<p><em>Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya ?”</em> (QS. Yunus: 31)</p>
<p>Di sisi lain, adapula manusia yang benar-benar bodoh karena tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjerumus dalam kesyirikan, sedangkan mereka merasa dirinya sedang beribadah kepada Allah dengan peribadatan yang sempurna. Inilah yang pada umumnya terjadi di masa kini, dimana orang-orang yang mempersembahkan peribadatan kepada selain Allah merasa bahwa mereka sedang beribadah kepada Allah. Mereka memberi sesajen ke tempat-tempat yang mereka anggap keramat padahal tempat-tempat itu sama sekali tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun mudhorot bagi mereka, mereka berbondong-bondong datang ke kuburan-kuburan orang-orang yang mereka anggap wali (seperti: Wali Songo) lalu mereka berdo’a dengan begitu khusyu’ nya di sana, mereka takut akan kemurkaan “penjaga gunung” jikalau sesajen tak dihantarkan kepadanya lalu muncullah gempa yang menggoncangkan pasak-pasak bumi, mereka sangat khawatir bila ratu penjaga pantai tak diberi sepotong kepala kerbau maka sang ratu akan mendatangkan bencana dari lautan kepada mereka. Demikianlah kebodohan musyrikin zaman sekarang. Kesyirikan yang mereka lakukan bukan hanya dalam uluhiyah (penyembahan makhluk terhadap Al-Kholiq yaitu Allah), tetapi juga dalam perkara rububiyah (yaitu hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, seperti menciptakan, mendatangkan bencana, memberi rezeki, dan sebagainya). Betapa besar kebodohan orang-orang musyrik yang menganggap bahwa selain Allah (yaitu “penjaga gunung”, ratu penjaga pantai, orang-orang yang mereka anggap wali, dan tempat-tempat yang mereka anggap keramat) bisa memberi rezeki atau membebaskan mereka dari marabahaya, lalu karena itu orang-orang musyrik dengan penuh harap dan takut menyembah sekutu-sekutu Allah itu sebagaimana mereka menyembah Allah. Bahkan seringkali mereka lebih mengagungkan sekutu-sekutu tersebut dibandingkan pengagungan mereka terhadap Allah. Sebagaimana yang sering kita jumpai orang-orang yang sangat takut bila bencana datang akibat kemurkaan Nyi Roro Kidul Ratu Pantai Selatan, padahal mereka tidak takut bila Allah menimpakan azab yang sangat pedih secara tiba-tiba akibat kesyirikan yang senantiasa mereka lakukan tersebut.</p>
<p><strong>Hakekat Kesyirikan</strong></p>
<p>Orang-orang musyrik mempersembahkan peribadatan kepada selain Allah dapat terjadi akibat salah satu diantara dua hal:</p>
<ol>
<li>Mereka menganggap bahwa sekutu-sekutu Allah yang mereka sembah itu memiliki kekuasaan yang sama dengan kekuasaan Allah, seperti kemampuan Dewi Sri menumbuhkan tanaman padi sebagaimana Allah pun dapat melakukannya, kemampuan “penjaga gunung” mendatangkan gempa bumi sebagaimana Allah pun dapat melakukannya.</li>
<li>Mereka menganggap bahwa sekutu-sekutu tersebut hanya merupakan wasilah (perantara) dalam mendekatkan orang-orang musyrik tersebut kepada Allah, seperti berdo’a pada orang-orang yang dianggap wali agar mereka hajat mereka dapat segera tersampaikan kepada Allah. Mereka menganggap Allah seperti raja yang sulit untuk mengetahui seluruh kebutuhan rakyatnya bila tidak dibantu oleh para pendamping yaang merupakan wasilah/perantara. Padahal bukankah di Al-Qur’an telah sangat sering disebutkan bahwa Allah adalah Al-Bashir (Yang Maha Melihat) dan As-Samii’ (Yang Maha Mendengar)??!</li>
</ol>
<p>Dengan mengenali hakekat kesyirikan, kita bisa mengetahui sebab-sebab kemusyrikan di zaman Rasulullah hingga zaman sekarang. Seorang ulama besar, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, menyebutkan bahwa hakekat kesyirikan kembali kepada dua perkara:</p>
<ol>
<li><em>Tasyabbuh</em>, yaitu menyerupakan makhluk dengan Al-Kholiq dalam kekhususan yang dimiliki Allah (Al-Kholiq/Pencipta), seperti: menciptakan.</li>
<li><em>Tasybihul Kholiq bil makhluq</em>, yaitu menyerupakan Al-Kholiq dengan makhluk, seperti: orang-orang Nasrani yang menamakan Allah dengan Tuhan Bapak.</li>
</ol>
<p>Jika kita ingin merunut kedua hakekat kesyirikan tersebut, maka kita akan kembali pada akar kesyirikan yaitu kebodohan manusia tentang Allah. Bagaimana tidak dikatakan bodoh bila telah jelas tanpa keraguan bahwa yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mengatur segala urusan, yang memiliki segenap kekuasaan alam semesta hanyalah Allah sehingga dengan sebab itulah hanya Allah yang berhak disembah, namun musyrikin tersebut tetap mempersembahkan bentuk peribadatan kepada selain Allah. Dengan kata lain, mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu yang sama sekali tidak memiliki kemampuan sebagaimana yang dimiliki oleh Allah. Mereka memberikan hak uluhiyah (penyembahan) kepada sesuatu yang tidak memiliki hak rububiyah (kemampuan untuk mencipta, mengatur alam semesta, dan berbagai kemampuan lain yang hanya dimiliki oleh Allah).</p>
<p>Bagaimana mungkin kita menyamakan Allah dengan makhluk? Padahal antara makhluk dan Al-Kholiq (Pencipta) pastilah berbeda. Al-Kholiq itu Maha Kuasa atas segala sesuatu, sedangkan makhluk tidak memiliki kekuasaan sedikitpun kecuali bila Al-Kholiq membantu mereka. Maka, bagaimana mungkin makhluk yang lemah bisa disamakan dengan Al-Kholiq yang Maha Kuasa? Pemikiran rusak seperti inilah yang merasuki jiwa orang-orang musyrik sejak dahulu hingga sekarang.</p>
<p><strong>Milikilah Kunci Penutup Pintu Kesyirikan</strong></p>
<p>Saudariku muslimah, tentunya kita bersama telah mengetahui bahwa sesungguhnya Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa.</p>
<p>الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ</p>
<p><em>“Alif laam miim. Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”</em> (QS. Al-Baqarah: 1-2)</p>
<p>Maka, renungilah kembali sebuah surat di dalam Al-Qur’an yang sudah sangat sering kita baca. Hendaknya surat tersebut menjadi perenungan bagi setiap orang yang mempersembahkan peribadatan mereka kepada selain Allah.</p>
<p>قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ</p>
<p><em>“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.”</em></p>
<p>Al-Qur’an merupakan ucapan yang paling benar, maka pintu kesyirikan manalagi yang bisa dibuka bila Allah sendiri yang telah menegaskan di dalam Al-Qur’an bahwa TIDAK ADA SESUATU PUN YANG SETARA DENGAN- ALLAH??!</p>
<p>***</p>
<p>(Disarikan dari <em>Syarah Kasfu Syubuhat</em> oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin dan beberapa catatan ta’lim, seperti: <em>Kasyfu Syubuhat</em> dan <em>Lum’atul I’tiqod</em>)</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisagroup.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisagroup.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisagroup.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisagroup.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisagroup.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisagroup.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisagroup.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisagroup.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisagroup.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisagroup.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisagroup.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisagroup.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisagroup.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisagroup.wordpress.com/329/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisagroup.wordpress.com&amp;blog=28770304&amp;post=329&amp;subd=annisagroup&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisagroup.wordpress.com/2011/10/30/ukhti-muslimah-ketahuilah-hakekat-kesyirikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ab8d3d48d364e3afbf1410661c9175f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">annisagroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://annisagroup.files.wordpress.com/2011/10/71.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">7</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
